Rhenald Kasali : Complementary

Jakarta, Dua minggu yang lalu saya diminta menjelaskan konsep dasar ReCode di hadapan para bupati dan aparat pemerintah daerah di Kalimantan Timur. Dalam kesempatan itu hampir semua bupati atau wakilnya hadir, kecuali yang sedang ditahan aparat. Di tempat ini, saya pun mulai menyaksikan peranan leadership dalam membangun daerah.

Di antaranya terdapat Awang Farouk (Bupati Kutai Timur) dan dr. Jusuf S.K (Walikota Pulau Tarakan). Keduanya saya lihat sangat menonjol, dan tidak menyia-nyiakan resources yang mereka miliki. Mereka tahu bahwa kekayaan alam dapat habis dan sadar betul masa depan daerah yang dipercayakan pada mereka tidak bisa terus menerus menggantungkan pada nya. Seperti kata Michael Porter, kesejahteraan bukanlah didapat dari warisan (inherited), melainkan harus diciptakan sungguh-sungguh (well created) melalui inovasi.

Awang Farouk adalah mantan “orang pusat” yang lama berkecimpung di parlemen sehingga ia tahu apa yang menjadi pergulatan pusat dengan daerah dan sebaliknya. Sedangkan dr. Jusuf S.K. adalah seorang dokter yang telah teruji menyelamatkan rumah sakit di daerahnya. Mereka menggunakan kacamata daerah untuk membangun daerahnya, yang meski kaya, tetapi miskin dalam kualitas sumber daya manusia, organisasi dan infrastruktur. Dengan begitu kekayaan daerah mereka tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh putra-putri daerah, melainkan dinikmati oleh orang-orang yang datang dari luar, khususnya luar negri, melalui perusahaan-perusahaan asing atau kaki tangannya.

Dibayang-bayangi oleh pemeriksaan yang sangat “menakutkan” dalam spirit pemerintahan anti korupsi, tentu saja misi yang mereka emban tidaklah ringan. Memerintah di era transisi dapat dikatakan “gampang-gampang-sulit”. Gampang karena aturannya mulai lebih jelas. Sulit karena pikiran para aparat dan pelaku usahanya masih terbelenggu oleh tradisi-tradisi lama. Sudah begitu, aparat pemerintah pun mulai mengerti “demokrasi”, sehingga kepemimpinan yang dilakukan tidak bisa lagi bersifat otoriter dan “control”. Yang masih menjadi masalah adalah cara bepikir pusat yang belum sama dengan gelombang cepat yang dituntut di lapangan. Bahkan kebijakan yang berganti-ganti.

Tetapi ada satu kesadaran baru yang tengah berkembang di kalangan para pemimpin di daerah, yaitu kesadaran complementarity. Mudah-mudahan ini merupakan kabar gembira, dan dapat menjadi awal bagi berakhirnya era ego-kabupaten. Pada era-era awal desentralisasi, memang terlihat masing-masing daerah hanya mementingkan PAD (Penghasilan Asli Daerah) masing-masing yang cenderung mengabaikan kepentingan tetangga-tetangganya. Bahkan pungutan-pungutan yang ada sudah mirip seperti pungutan bea masuk yang lazim diterapkan antarnegara. Selain itu banyak juga ditemui kabupaten-kabupaten yang membangun fasilitas-fasilitas besar dan mewah tanpa memperhitungkan hubungannya dengan daerah-daerah di sekitarnya.

Mereka misalnya berlomba-lomba membangun lapangan terbang besar, padahal tak jauh dari situ sudah ada lapangan terbang ibukota propinsi yang belum optimal. Sementara, dipicu oleh pembangunan baru itu, kota-kota yang berjarak dekat pun melakukan hal serupa. Dan bagi daerah-daerah yang super kaya, mereka juga memimpikan lapangan golf kelas dunia, meski pengunjungnya terbatas hanya para elitnya saja. Ada juga yang terlihat penuh kasih sayang pada rakyat, membebaskan uang sekolah, tetapi mendiamkan keadaan gedung sekolah yang hampir roboh dengan guru-guru yang cara mengajar dan pengetahuannya tidak diperbaharui.

Namun hendaknya jangan kita melihat daerah semata-mata oleh kasus-kasus itu saja. Kenyataan di lapangan, ada good news berupa best practice yang telah dijalankan oleh pemimpin-pemimpin yang saya sebut pemimpin bintang lima.

Prinsip complementarity adalah prinsip dasar bagi penguatan daya saing. Seperti yang tertulis dalam berbagai kitab suci, Tuhanpun menciptakan manusia berbeda-beda (bersuku-suku) untuk saling melengkapi. Demikian pulalah kita memerlukan besi dan kayu untuk membangun sebuah gedung. Semuanya harus bisa saling melengkapi, dan patuh pada seorang pengambil keputusan dan pembuat gambar. Pembuat gambarnya pun harus mengetahui betul-betul resources yang ada di berbagai daerah, serta kendala-kendala yang dihadapi di lapangan.

Dalam konsep cluster yang digagas Porter, complementarity adalah kata kunci yang sangat penting dalam pembangunan daya saing suatu bangsa. Kita tidak perlu bersaing dengan spirit “subtitusi” yang menyiratkan ingin menguasai yang lainnya dengan “kekuatan lebih” sehingga kita menjadi lebih menonjol, lebih jago, dan lebih berkinerja. Ini tentu saja tidak dilarang, namun sebelum sampai ke sana, kita perlu membangun dulu sebuah fondasi yang kuat. Fondasi itu dibangun bukan dengan nafsu win-lose, melainkan dengan spirit win-win.

Maka dalam merumuskan strateginya, suatu daerah perlu melihat-lihat potensi dan fasilitas apa yang dapat disediakan oleh tetangga-tetangganya dalam suatu area yang dapat dijangkau (accessible). Kalimantan, Sulawesi dan Papua, misalnya sama-sama memiliki resources dari alam yang kurang lebih sama. Tetapi sumber daya alam tidak akan pernah menjadi kekayaan yang berarti kalau mereka tidak bisa mengolahnya dengan tangan-tangan yang terampil. Maka diperlukan human capital, social capital dan mesin-mesin yang memadai serta pelaku-pelaku usahanya.

Maka suatu propinsi sebaiknya membangun daerahnya dengan investasi di bidang human capital yang sophisticated (canggih). Yang lainnya membangun sarana permodalan yang kuat, lalu yang lainnya di bidang transportasi, pemasaran, R&D, dan sebagainya. Mereka juga tak perlu punya banyak pelabuhan internasional, cukup satu atau dua saja. Tapi yang juga tak kalah penting adalah akses di antara pusat-pusat kegiatan ekonomi itu harus dibuka seluas-luasnya. Cluster itu pada dasarnya bukan semata-mata kedekatan secara geografis saja, melainkan ada atau tidaknya akses yang menghubungkan mereka. Dan terakhir, tentu saja bagaimana mereka bersama-sama membangun social capital dalam masyarakat itu. Itulah kunci penting dalam spirit complementarity.

Keterangan penulis:
Rhenald Kasali adalah pakar manajemen pemasaran, perilaku konsumen, komunikasi dan strategi. Direktur Program Magister Management FE Universitas Indonesia.

2 thoughts on “Rhenald Kasali : Complementary

  1. Robert M Erwinn

    memang sih kalau keinginan maju pemimpin daerah sudah mulai ada. Soal korupsi sudah sangat sulit dihapus, semakin ke kawasan Timur lebih tertutup soal korupsi, soalnya kebanyakan pejabat di daerah masih ada hubungan saudara. Kalau ada penghianat pasti orang yang balas dendam atau tidak kebagian jarahan. Kalau suka bangun pasar, lapangan terbang sudah pasti berhubungan dengan rejeki, selain itu juga dapat nama baik.

    keterangan komentator :
    mantan penulis + wartawan harian Pos Kupang, Suara Timor Timur

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s