MAMA REPTIL : Kategori Pemimpin

Berikut artikel menarik dari Rhenald Kasali mengenai leadership.

Jakarta, Setelah lebih dari dua tahun absen di kolom ini, mulai minggu ini saya kembali mengunjungi Anda. Ada rasa rindu yang besar untuk kembali ke sini setelah lama absen. Mudah-mudahan kolom-kolom ini mampu memberikan manfaat. Saya mulai dulu dengan tulisan serial mengenai leadership.

Dalam roadshow seminar mengenai “ReCode Your Change DNA” saya sering menanyakan kepada para eksekutif, mana yang mewakili diri mereka: buaya atau lumba-lumba. Seperti terhentak, mereka tiba-tiba mulai berpikir.

Ada yang tersenyum, ada pula yang bersungut-sungut. Tapi seperti yang diduga, sekitar 90% mengaku dirinya lebih tepat mengidentifikasikan dirinya sebagai ikan lumba-lumba daripada buaya. Dan saat melihat beberapa orang mengangkat tangannya sebagai “buaya”, mereka pun tertawa renyah. Bahkan tak jarang ada yang berteriak: “Perhatikan siapa tuh orang-orangnya.”

Waktu saya tanya mengapa mereka memilih demikian, kelompok lumba-lumba mengatakan: “Suka menolong dan enak dilihat.” Sedangkan yang “buaya” mengatakan “agresif, fokus”.

Keduanya sama-sama benar. Dan saya pun mulai melebarkan kategori: pilih mamalia atau reptilia. Lagi-lagi mamalia yang menjadi favorit.

Alasannya mudah dijawab. Mamalia baik, mengasuh, tidak meninggalkan anak-anaknya terlantar. Sedangkan nama-nama yang ada di spesies reptilia, kedengarannya saja sudah tidak enak: buaya, kadal, ular, dan seterusnya. Anda tentu pernah mendengar ucapan-ucapan seperti: “buaya kok mau dikadalin.”

Inikah peta prilaku para eksekutif kita?

Artinya, lebih banyak mamalia daripada reptilia?

Mamalia tentu saja mewakili simbol yang bagus-bagus, sama seperti jati diri manusia (yang juga mamalia), yaitu suhu tubuhnya tidak dibentuk oleh lingkungannya dan berdarah hangat. Selain itu cenderung nurture (mengasuh), lembut, dan mengikutsertakan (engaged).

Sedangkan reptilia, selain berdarah dingin (suhu tubuhnya dibentuk oleh keadaan di sekitarnya), cenderung agresif, dan memisahkan diri (detached).

Saya pun mengajak peserta mengukur diri maisng-masing secara objektif. Dengan catatan mereka mengisi dengan benar dan jujur, do-belief (apa yang benar-benar diyakini akan dikerjakan) dan bukan say belief (apa yang hanya diucapkan atau normatif).

Melalui dua lembar kuesioner akhirnya mereka bisa mengidentifikasi diri mereka. Dan seperti yang diduga, sejumlah orang ternyata “salah kamar.” Banyak orang yang sesungguhnya reptilia, ternyata telah mengaku dirinya sebagai mamalia. Tetapi seperti yang telah dapat diduga pula, mayoritas eksekutif kita memang berjiwa mamalia.

Ini memang tidak jelek, tetapi tentu ada kelemahan-kelemahannya. Mamalia cenderung berkelompok, kurang berkarakter kuat. Hatinya lembut, tetapi kurang galak dan mudah diterkam buaya. Ia cenderung mengasihi dan percaya pada orang lain, sehingga bisa saja tertipu.

Sementara itu reptilia yang terkesan “kadal” dan “ular” memang bengis, fokus, dan agresif. Tetapi ia sanggup bekerja tidak berkelompok, tidak perduli, dan cenderung melakukan follow up. Ia mengutamakan disiplin, namun cenderung kurang percaya pada orang lain.

Keduanya punya kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan, dan tentu saja mereka harus mengetahui apa yang harus dilakukan agar mampu menjadi pemimpin. Yang saya maksudkan tentu saja bukan sekedar manajer atau pemangku jabatan, melainkan seorang pemimpin besar (a great leader). Seorang pemimpin yang keras hati dan berani, tetapi tetap lembut dan penuh cinta kasih. Saya akan uraikan dalam kolom lanjutannya minggu depan, salam.

keterangan penulis:
Rhenald Kasali adalah pakar manajemen pemasaran, perilaku konsumen, komunikasi dan strategi. Direktur Program Magister Management FE Universitas Indonesia.

Jakarta, Mendengar kata reptilia pikiran kita biasanya mengacu pada karakter-karakter buruk seperti bunglon, kadal, buaya dan ular. Selain licik dan memangsa, reptil juga terkesan bengis, agresif, dingin dan berkulit tebal.

Sementara itu ada cukup banyak karakter mamalia yang menyenangkan dan menyejukkan. Kita, manusia memang termasuk dalam spesies mamalia, sehingga kita menyusui dan mengasuh anak-anak kita, bahkan menggendongnya sampai mereka bisa berjalan sendiri. Kita berdarah hangat dan cenderung tidak selfish.

Melalui rangkaian pertanyaan sederhana saya bisa mengecek kebenaran pendapat para responden tentang siapa diri mereka yang sebenarnya. Tidak terlalu sulit tentunya. Membacanya tentu mudah, yang sulit cuma memisahkannya saja, mana yang reptilia, dan mana yang mamalia. Seseorang boleh saja mengaku dirinya reptilia, tetapi melalui pertanyaan-pertanyaan sesederhana itu, akan jelas siapa diri yang sebenarnya.

Yang jelas, menurut catatan ilmu genetika, sekalipun manusia itu mamalia, kita ini sesungguhnya keturunan reptilia juga. Kita, menurut Joseph White, adalah produk evolusi dari aneka sel yang melewati proses seleksi jutaan tahun. Jadi wajar saja bila suatu ketika mamalia yang baik hati bisa berubah karakternya dan tiba-tiba menjadi keras, dingin dan tak kenal hati. Kita menyebut orang yang tiba-tiba garang dan marah, sebagai orang yang reptilia-nya sedang bekerja.

Sementara itu, secara garis besar kita memang dengan mudah menemukan perusahaan-perusahaan yang didominasi oleh karakter mamalia di sini. Karakter mamalia itu ditemui pada badan-badan milik pemerintah (dari pusat sampai ke daerah-daerah), perusahaan-perusahaan milik negara dan daerah, dan perusahaan-perusahaan besar.

Karakter mamalia itu secara garis besar adalah sebagai berikut: Cenderung berkerumun, berkomunitas, guyub, saling ingin tahu, saling berbagi dan saling menyesuaikan diri. Cenderung percaya satu dengan yang lainnya, dan kalau ada penugasan tidak ragu-ragu melakukan pendelegasian. Bahkan di pemerintahan kita biasa sekali melihat pejabat eselon 1 yang ditugaskan oleh mentrinya mendelegasikan memo yang diterima kepada pejabat eselon 2. Tanpa diketahui pejabat eselon 1 dan bapak/ibu mentri, tugas tersebut diturunkan lagi ke bawah, lalu ke bawah lagi dan ke bawah lagi.

Bayangkan, tak banyak yang tahu bahwa masukan keputusan sebenarnya cuma datang dari anak-anak muda yang baru diterima bekerja yang statusnya sebagian besar masih capeg (calon pegawai). Jangan heran, mereka bisa jadi lebih pandai dari bos-bosnya. Hanya saja, proses yang mereka lalui untuk menjadi pemangku jabatan (pejabat) masih panjang.

Itulah karakter mamalia. Karakter itu bukan cuma ada pada orang per orangan, melainkan juga saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Sehingga membentuk rumah atau budaya mamals (mamalia).

Mamalia juga cenderung meng-empower orang lain agar proses delegasi berlangsung aman. Dengan kata lain, ada spirit kekeluargaan yang cenderung saling melindungi, menjaga dan berorientasi pada kebersamaan (people sense).

Dapat dibayangkan apa jadinya organisasi yang diisi orang-orang baik dan seperti itu?

Tentu saja jawabannya macam-macam. Ada yang mengatakan, “Itulah yang saya cari.” Tapi ada pula yang mengatakan “Bahaya!” Semua sangat terpulang pada diri Anda masing-masing.

Tentu saja ada organisasi-organisasi yang karakternya memang demikian: nurture dan engaged. Tetapi bisakah hal ini diterapkan dalam bisnis? Bisa ya, bisa pula tidak. Dalam organisasi kita membutuhkan mamalia dan reptilia. Dalam badan-badan usaha di sektor jasa, khususnya yang menyangkut human care dan hospitality sepeti rumah sakit, laboratorium kesehatan, fitness center, hotel, travel guide dan sebagainya, tentu kita membutuhkan karakter mamalia pada ujung-ujung tombak pelaku penyerah jasa. Keadaan sebaliknya ada di sektor-sektor keuangan yang cenderung berbudaya mamalia. Tetapi bagaimana di level atas? Kita akan teruskan minggu depan. Salam.

Jakarta, Kita sudah membaca manusia tipe-tipe mamalia yang manis, baik, bersahabat, mendatangi, mengasuh dan sebagainya. Kita memerlukan mereka untuk menumbuhkan, dan rata-rata orang Indonesia lebih senang disebut “mamalia” ketimbang “reptilia”.

“Mamalia itu lucu dan baik”, komentar anak-anak IPB yang hadir dalam seminar di Aula Toyyib minggu lalu. Mungkin juga mereka terpengaruh oleh metafora yang saya berikan, yaitu lumba-lumba. Tidak banyak yang memilih buaya atau ular. Beberapa orang yang menyebut dirinya lebih cocok dengan karakter itu menjelaskan:

“fokus, bengis, agresif.”

Reptilia memang agresif dan fokus. Mahkluk ini cenderung tidak mendatangi (berkelompok), melainkan memisahkan diri dan bisa cari makan sendirian. Ia sangat detil, kuat, berkulit keras dan mudah dipanasi. Dalam diri manusia, orang-orang tipe reptil adalah tipe yang agresif, fokus, detil, analitikal, berorientasi pada angka, keras hati, tidak merasa perlu berkelompok, financial sense (the bottom line), cool, cenderung tidak percaya dengan orang lain sehingga melakukan verifikasi dan merasa perlu mengontrol.

Sekecil apapun, para ahli berpendapat, dalam diri manusia selalu saja ditemui karakter-karakter reptilia ini, meski kadarnya belum tentu sebesar manusia reptilia yang kita maksud. Anda mungkin sesekali bisa terbelalak saat antrian Anda diisi orang lain begitu saja dan Anda menghalaunya. Anda tidak memberi jalan orang yang menyalip mobil Anda, meski ia sedang harus mengejar waktu. Anda merasa seseorang tak bisa dipercaya dan Anda membantainya habis-habisan tanpa tampak wajah keasuhan Anda.

Namun sebagai pemimpin, yang saya maksud bukanlah mood, atau gejala sesaat yang muncul tiba-tiba, melainkan suatu sifat yang konsisten dan cenderung permanen. Sifat ini bisa bawaan, melekat pada genetika (DNA) Anda, tapi bisa juga dibentuk oleh lingkungan atau orang-orang yang memberi contoh pada diri Anda.

Tentu tidak ada salahnya belajar dari para pemimpin reptilia, karena rata-rata pemimpin besar ternyata memang demikian. Pemimpin reptilia adalah pemimpin yang keras hati atau berhati baja. Seperti kata Kowzes & Posner, pemimpin adalah orang yang bekerja dengan hati yang teguh, sehingga berani (courag). Asal kata courage sendiri dalam bahasa Latin adalah cor yang artinya “heart”. Dengan courage, seseorang akan mampu menggerakkan orang-orang lain (encouragement).

Rektor saya di University of Illinois, Yoseph White mengaku dirinya lebih reptilia, sama seperti pendiri Intel (Andy Groove) yang ucapannya sangat terkenal: “Only the paranoid survive”.

Reptilian Excellence, menurut White tercermin dalam prilaku yang tidak mudah menyerah dan perduli dengan detail. Ia keras hati dalam tiga dimensi: mental, emosional dan manajerial.

Mentally tough berarti tahan banting dan bergairah dalam berprestasi dan meraih kemenangan. Ia berjiwa realistic, mampu membuka mata dan menerima apa dunia ini yang sebenarnya (seeing the world as it is) dan mengandalkan data sebagai pegangan.

Sedangkan emotionally tough berarti mantab, bermental baja, berketetapan hati, tegas, tidak cengeng – tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Dan managerially tough berarti menaruh perhatian pada detail (pada semua aspek), berpikir dan bertindak ekonomis, mengupayakan berada pada angka puncak, bekerja dengan rencana dan menjaga eksekusi sebaik-baiknya, mengukur kinerja termasuk diri sendiri dan mengembangkan alat kontrol yang efektif.

Sampai disini Anda tentu melihat, reptilia tidak jelek-jelek amat. Yang jelek adalah kalau Anda salah memakai kekerasan hati menjadi tidak bijak dan tidak sensitif. Tetapi akan menjadi lebih sempurna manakala Anda menggabungkannya dengan sedikit karakter mamalia sehingga Anda pun mampu mengusung pemimpin, bukan pengekor.

Kita teruskan minggu depan. Salam.

Jakarta, Kekerasan hati pemimpin reptilia, ditambah dengan kecanggihannya mengolah angka dapat menjadikan mereka sebagai CEO. Berbeda dengan pemimpin mamalia yang berhati lembut dan banyak “memahami”, pemimpin reptilia lebih berorientasi pada hasil akhir. Akibatnya, kebanyakan orang-orang berjiwa mamalia harus puas kerja hanya menjadi orang ke dua. Kalaupun menjadi orang pertama mereka biasanya tidak mampu bertahan lama.

Maklumlah, ada demikian banyak orang-orang berjiwa reptilia yang mengincar jabatan di posisi puncak itu. Mereka bengis, siap menaburkan aroma buruk, dan siap menerkam. Sementara itu, mamalia bukanlah mahkluk yang keras hati. Kalau diganggu ia memilih mundur daripada ikut-ikutan bertarung. Hatinya baik, meski kadang sifat keibuannya yang tegar bisa memecut lawan-lawannya malu dan mengambil langkah seribu.

Di padang rumput savana Masai di Kenya yang didiami oleh jutaan hewan jinak dan buas misalnya, banteng-banteng besar bertenaga kuat selalu menjaga dan melindungi anak-anak rusa dari serangan srigala-srigala hutan. Mereka selalu siaga dan siap menanduk, meski badannya yang tambun tak mampu bergerak lincah menghadapi serangan-serangan besar.

Untuk menjadi pemimpin, seorang berkarakter mamalia harus mengeksploitasi kekuatan “keasuhannya”. Kekuatan seperti yang dimiliki oleh Bunda Theresa atau reformer sekelas Mikhail Gorbachev dan Nelson Mandela misalnya, ada pada sikap-sikap pelayanan (attitude of service) dan kerelaan berkorban.

Mereka menghormati kekuatan kaum yang lemah dan tertindas dengan penuh cinta, membangun hidup mereka. Slogan kepemimpinan mereka adalah “it’s about my people, not about me.” Kekuatannya adalah kekuatan partisipatif, bukan kekuatan dirinya.

Sebuah studi lama, yang dilakukan pada tahun 1930 cukup menarik untuk diangkat disini. Dalam studi itu, responden terbagi dalam tiga kelompok yang dipimpin oleh tiga orang pemimpin karakter yang berbeda-beda. Otoriter (reptilia), demokratik (mamalia) dan “laissaz faire” (kebebasan) contoh dari kelompok yang terakhir ini sedang kita saksikan disini. Kita bukan sedang berdemokrasi, melainkan ber-laissez faire. Output dari kebebasan seperti ini hanyalah produktivitas yang rendah (jauh di bawah masa pemerintahan Orde Baru), serta tingkat kepuasan dan ikatan (cohesiveness) yang rapuh.

Namun demikian, output dan produktivitas di bawah kepemimpinan reptilia (otoriter) dan mamalia (demokratik) ternyata kurang lebih sama saja, kecuali satu hal. Yaitu pasca kepemimpinan. Begitu pemimpin reptilia menginggalkan gelanggang, ternyata semua orang berhenti bekerja. Sebaliknya, coba pikirkan apa yang terjadi di bawah kepemimpinan mamalia? Benar! Bawahan tetap bekerja.

Gejala ini menunjukkan satu hal penting bagi siapapun yang memimpin. Bahwa kepemimpinan tidak akan efektif terjadi begitu saja sesuai dengan selera masing-masing. Anda tidak akan pernah menjadi pemimpin besar yang dikenang dalam sejarah semata-mata karena Anda hebat atau Anda baik.

Pemimpin besar harus mampu menggabungkan dua kekuatan sekaligus, yaitu berhati keras dan berjiwa lembut. Dalam bahasa kitab-kitab suci disebut dengan “jinak seperti merpati, tetapi licik seperti ular.” Dalam bahasa manajemen disebut “berkulit tebal namun berhati mulia.” Dalam bahasa kepemimpinan kita menyebutnya mamareptil: Keras, teguh, disiplin, detail dan berani, namun berhati lembut, memelihara kekompakkan (kohesiveness), mengembangkan manusia, dalam suasana yang menyenangkan namun produktif. Inilah ulasan yang akan saya tuntaskan minggu depan. Selamat bekerja.

Jakarta, Mahasiswa saya menyebut kelompok yang antidikotomis ini sebagai mama-reptil. Pemimpin tipe ini adalah pemimpin besar yang tidak terbelenggu pada satu dari dua kategori yang sudah saya bahas dalam empat tulisan terdahulu, yaitu pemimpin mamalia atau pemimpin reptilia.

Benar, banyak sisi-sisi positif dan sisi-sisi terang pada pemimpin reptilia maupun mamalia, tetapi masing-masing memiliki sesuatu keunggulan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Bayangkan kalau pemimpin cuma baik saja, apa jadinya saat berhadapan dengan “buaya” atau karakter-karakter bengis lainnya? Sebaliknya apa jadinya kalau pemimpin hanya bengis saja, tetapi kebaikannya tidak ada?

Pemimpin besar, menurut Peter Koestenbaum, adalah pemimpin yang mampu mengkombinasikan dua hal yang selalu bersebrangan (paradox). Jadi managing paradox (seperti menggabungkan reptilia dengan mamalia) menjadi sangat penting di sini. Sebab leadership pada dasarnya adalah kombinasi dari sisi strategic (otak kiri) dan sisi personal (otak kanan).

Sisi strategic menyangkut hal-hal bisnis yang memerlukan ketegasan, keberanian dan ketajaman membaca, seperti negosiasi, penetrasi pasar, positioning, pengambilan resiko, keuangan, pergantian orang dan sebagainya. Sedangkan sisi personal menyangkut soal karakter, kejujuran, motivasi, kebebasan, kreativitas, etika, nilai-nilai, tanggung jawab, komitmen, pengorbanan diri, pengembangan orang dan sebagainya.

Pemimpin reptilia dibutuhkan, tetapi ia hanya cocok menjadi pemimpin bidang. Sebut saja bidang keuangan, akuntansi atau menjadi komandan batalyon. Sama halnya dengan pemimpn mamalia yang hanya cocok menjadi manajer SDM, atau marketing. Mereka belum tentu mampu menjadi pemimpin besar, yang misinya adalah pembaharuan. Pemimpin besar itu adalah mama reptil.

Dibekali oleh karakter dan etika yang kuat, serta kompetensi yang memadai, mama reptil menggabungkan sisi mamalia dan sisi reptilia; sisi strategic dan sisi personal. Ia mampu bertindak rasional sekaligus aktif intuisinya, detail dan konteks sama kuatnya. Ia adalah pemimpin yang inspiratif. Ia bekerja dan mendapat legitimasi kepemimpinan bukan hanya sebatas adanya surat keputusan (SK) saja, melainkan karena ia menunjukkan dua hal sekaligus: prestasi dan kebaikan hati.

Orang-orang dengan patuh mengikuti perintahnya karena mereka mengakuinya dan mereka menginginkannya. Terlebih lagi, ia mencetak pemimpin, bukan pengikut (followers).

Dalam konsep ReCode, leadership menjadi sangat penting karena seseorang memimpin bukan cuma memimpin ke bawah (lead down) saja, melainkan juga ke atas (lead up) dan ke samping (lead accross). Seseorang bisa saja tampak hebat dalam memimpin teamnya, tetapi ia bisa kesulitan berhubungan dengan peers di sekitarnya (orang-orang dari bagian lain). Ada juga orang yang baik sekali hubungannya ke atas (ke bos langsungnya), tetapi ia tidak didengarkan di bawah. Dan ada pula orang-orang yang tidak punya masalah apa-apa baik dalam membangun koalisi ke atas, ke bawah, maupun ke samping, tetapi mereka tidak meninggalkan jejak prestasi apa-apa.

Ingatlah, kata kunci dalam leadership adalah to influence (yang artinya Anda punya pengaruh) atau Anda memperoleh respek. Orang ikut Anda karena siapa Anda dan apa yang telah Anda perbuat untuk organisasi dan untuk mereka. Dengan membantu orang lain, pemimpin telah membantu dirinya sendiri. Jadi janganlah menjadi buaya atau menjadi lumba-lumba, jadilah mama reptil.

Keterangan penulis:
Rhenald Kasali adalah pakar manajemen pemasaran, perilaku konsumen, komunikasi dan strategi. Direktur Program Magister Management FE Universitas Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s