Benturan Keras

Lantas, apa penyebab kecelakaan itu? Ada beberapa versi, yang semuanya cenderung pada dugaan pilot error. Salah satunya diungkapkan Robert Heath, profesor yang juga pakar penerbangan dari University of South Australia. Mengutip situs online The Morning Sydney Herald, Heath mengatakan, pesawat Garuda yang terbakar di Bandara Adisucipto, Yogya, kemarin pagi mengalami benturan keras ketika mendarat.

“Apa yang saya lihat sejauh ini adalah pesawat mengalami benturan ketika mendarat. Mungkin hal itu disebabkan kecepatan pesawat yang terlalu tinggi (overshoot),” jelasnya.

Heath juga mengatakan, kecelakaan yang terjadi kemarin sangat mungkin tidak disebabkan faktor cuaca. Sebab, saat peristiwa terjadi, cuaca cerah.

Versi lain tentang penyebab kecelakaan diungkapkan Sri Subekti, pengamat penerbangan yang juga mantan pilot senior Garuda. Menurut dia, musibah itu diduga kesalahan pilot (human factor).

Menurut dia, jika karena sesuatu pun sehingga kondisi landasan kurang memungkinkan untuk pendaratan, pilot sebenarnya berhak melakukan go around (naik kembali).

Teknik go around itu harus dilakukan untuk menyelamatkan penumpang. Hal itu bisa dilakukan ketika pesawat mendekati (approach) landasan atau ketika sudah menyentuh tanah (landing). “Kalau sampai pesawat bounching (mental-mental), mungkin kecepatan turunnya melebihi batas normal 115-125 mil per menit,” jelasnya.

“Dalam kasus ini, diduga memang faktor pilotnya,” lanjutnya.

Sumber Fajar yang juga pilot senior di sebuah maskapai penerbangan milik swasta sependapat dengan dugaan pilot error. “Saya setuju kalau kecelakaan itu terjadi karena overshoot, yakni pesawat landing melampaui batas. Kecepatan pesawat saat landing terlalu tinggi,” katanya. Akibatnya, pesawat seperti memantul-mantul. Ini bisa jadi membuat roda pecah.

“Saat roda pesawat pecah, tinggal besinya. Inilah yang sangat mungkin menyulut percikan api, dan percikan api inilah yang memicu terjadinya kebakaran dan ledakan,” katanya. “Ini baru perkiraan. Kita tunggu saja hasil penyelidikan KNKT,” lanjutnya.

Setiap melakukan pendaratan, kata dia, pilot harus membentuk sudut tertentu dengan runway (landasan pacu) yang disebut glidepath. Dengan demikian, pesawat tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu rendah dari runway. “Di pesawat juga ada instrumen untuk mengontrol kecepatan pesawat saat mendarat,” katanya.

Karena itu, dalam kasus Garuda kemarin, diduga kesalahan terletak pada pilot. “Bisa karena pilotnya, bisa juga instrumen pengontrol kecepatan saat landing tidak akurat,” katanya. “Tapi… sebaiknya kita tunggu saja hasil penyelidikan dari KNKT,” lanjutnya.

* Landasan Layak

Pihak PT Angkasa Pura menampik tudingan bahwa penyebab kecelakaan itu adalah landasan pacu Bandara Adisucipto tidak layak. Mantan Humas PT Angkasa Pura yang kini menjabat Manajer Keuangan dan Administrasi PT Angkasa Pura I Ary Subagyo menegaskan, landasan sepanjang 2.250 meter dengan lebar 45 meter itu sudah memenuhi standar landing pesawat jenis Boeing 737. “Tidak mungkin diberikan izin jika landasan tidak memadai,” katanya.

Ary menambahkan, kondisi cuaca pada saat kejadian clear dengan kecepatan 5 knot. Karena itu, Ary pun mengaku belum mengetahui pasti penyebab kecelakaan pesawat. Pihaknya meminta keterangan pihak Air Traffict Control (ATC) atas kemungkinan terjadi komunikasi mengenai trouble pada pesawat.

* KNKT Periksa Awak

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) langsung bergerak cepat. Tidak lama setelah pesawat Garuda GA 200 terbakar, beberapa anggota KNKT meluncur ke Yogya. Begitu mendarat, tim langsung mengidentifikasi lokasi terbakarnya pesawat.

Sampai berita ini diturunkan tim masih bekerja. Tim KNKT juga memeriksa pilot Muhammad Marwoto dan kopilotnya. Salah seorang anggota KNKT, Capt A Coos Santioso ketika dikonfirmasi belum bersedia memberikan keterangan mengenai hasil pemeriksaan. Dia mengaku masih akan melakukan identifikasi di lokasi.

“Belum bisa, nanti kalau sudah ada hasilnya kita beri tahu,” ujarnya.

Santioso mengatakan, tim KNKT berjumlah empat orang. Tapi, belum ditunjuk siapa ketua KNKT kecelakaan pesawat Garuda itu.
Di lokasi terbakarnya pesawat, para anggota tim KNKT memeriksa puing pesawat yang hangus terbakar. Puing dan serpihan pesawat diteliti secara detail.

Tim juga mengorek reruntuhan puing yang masih tertutup abu. Dua mesin pesawat dan sayap juga diperiksa.

Tidak hanya KNKT, petugas pusat laboratorium dan forensik (puslabfor) Polda DIY dan Jawa Tengah juga ikut mengidentifikasi puing pesawat. Sama dengan tim KNKT, mereka ikut memeriksa puing pesawat. Begitu tim KNKT dan Puslabfor melakukan identifikasi, lokasi terbakarnya pesawat disterilkan sekitar 200 meter. Pihak yang tidak mempunyai kepentingan tidak diperbolehkan masuk dalam area police line. (lin/sam)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s