Peritel modern kloning produk laris

JAKARTA: Peritel modern melakukan praktik kloning dengan meminta industri besar memasok produk laris mereka untuk merek peritel. Sementara itu, pemasok meminta pemerintah menyikapi kecenderungan private label yang marak.

Dari pengamatan Bisnis di gerai ritel modern, industri besar tersebut kebanyakan memasok barang seperti kapas, cotton bud, dan kecap.

Seperti PT Univenus yang memproduksi tisu merek Nice juga memasok tisu untuk merek sendiri ritel minimarket Alfamart, serta hipermarket Giant dan Carrefour.

Sementara itu, produsen kapas merek Selection memasok kapas untuk Alfamart serta Giant, dan produsen kapas merek Wellness memasok kapas untuk merek Carrefour.

Cotton bud merek Carrefour dipasok oleh produsen produk sejenis bermerek Ideal dan Ichiban. Kecap pedas Carrefour dipasok oleh Ika Foods yang juga memproduksi jenis yang sama dengan merek Kokita.

Dari pengamatan Bisnis, untuk barang dengan jenis yang sama perbedaan harganya ada yang mencapai hingga Rp2.000 per satuannya.

Tutum Rahanta, Sekjen Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), mengakui memang telah terjadi pengkloningan produk industri besar untuk memasok barang private label ritel modern.

“Di manapun ada strategi itu. Strategi kloning tidak ada yang melarang, dan siapa memang yang dirugikan?” ujar Tutum.

Dengan menjadi pemasok barang private label, katanya, merek industri besar malah berpotensi untuk memperbesar pangsa pasarnya, sehingga tidak mungkin mematikan industri.

“Bagaimana mematikan, karena ada kerja sama antara satu dengan lainnya. Satu merek bisa mengambil sekian persen pangsa pasar yang didapatnya dari penjualan di satu ritel modern.”

Dalam kesempatan terpisah Haniwar Syarif, Direktur Asosiasi Pengolahan Daging Indonesia (National Meal Processors Association/Nampa) minta perhatian pemerintah untuk menyikapi perkembangan merek peritel dengan membatasinya.

“Peritel modern melakukan kloning dari merek yang bagus. Kalau industri mulai dari nol, maka peritel itu bisa langsung menang dengan cara kloning,” kata Haniwar.

Hal lain yang meresahkan, tambah dia, adalah kontrak pemasok private label yang dilakukan peritel modern umumnya hanya berjangka pendek, yaitu selama tiga bulan.

“Setelah tiga bulan, maka peritel menenderkan lagi ke berbagai merek untuk mencari siapa yang memberi harga paling murah,” keluh Haniwar. (linda.silitonga@bisnis.co.id)

Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s