Hapus Kolom Agama di KTP

Jakarta, wahidinstitute.org

Ketua National Integration Movement (NIM) Maya Safira Muchtar menyatakan, pencatuman kolom agama pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) terbukti telah menjadi salah satu penyebab terjadinya diskriminasi dan konflik sosial di negeri ini. Makanya, tidak ada alasan lagi untuk mempertahankannya.

“Kolom agama pada KTP harus dihapuskan, karena akan menyebabkan diskriminasi dan konflik horizontal. Itu telah terjadi tidak hanya di Poso, tapi di mana-mana,” kata Maya saat memberi sambutan pada konferensi pers bertema Sebuah Seruan demi Keselamatan Anak Bangsa, di Gedung Jakarta Media Center, Jl Kebon Sirih 32-34 Jakarta, Kamis (01/03/2007).

Hadir juga cendekiawan Muhammadiyah M. Dawam Rahardjo, pewaskita nasional Mama Lauren, anggota DPR RI dari PDIP Permadi, dan spiritualis lintas agama Anand Krishna. Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga dijadualkan hadir, tidak tampak di lokasi karena ada agenda lain.

Dikatakan Maya, pemerintah harus bekerjasama dengan masyarakat untuk menegakkan hukum demi menyelesaikan problem diskriminasi dan konflik sosial yang seakan tanpa henti itu. “Media massa juga jangan hanya menyebarkan berita diskriminasi dan kekerasan saja. Saya minta para wartawan bekerjasama soal ini,” pintanya.

Menyambut seruan Maya itu, M. Dawam Rahardjo menyatakan kesetujuan dan dukungannya. “Saya setuju sekali penghapusan kolom agama pada KTP. Saya akan ikut berjuang,” tegasnya.

Dawam juga menyatakan dukungannya pada NIM untuk mengganti pendidikan agama di sekolah-sekolah umum dengan pendidikan budi pekerti. “Kenapa? Pelajaran agama di ruang public, kelas, itu akan jadi lahan rebutan untuk agama masing-masing, sehingga kelompok Islam membuat syarat pelajaran agama harus didasarkan pada agama orang tua,” katanya. “Ini bibit perpecahan atau integrasi sosial. Makanya saya mendukung 100 % pendidikan agama diganti pendidikan budi pekerti,” sambungnya.

Mama Lauren yang berbicara setelah Dawam mengingatkan, sebetulnya diskriminasi dan konflik horizontal itu tidak perlu terjadi jika masyarakat Indonesia berpegang teguh pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. “Yang penting adalah kesadaran kita masih pakai Pancasila dan Bhineke Tunggal Ika,” katanya. “Penghapusan kolom agama di KTP itu salah satu cara. Tapi kalau pikiran manusia tidak ikut berubah, saya rasa tidak ada gunanya. Seribu KTP bisa timbul lagi,” ingatnya.

“Filosof” Jawa Permadi menceritakan, dirinya termasuk yang menjadi korban diskriminasi soal KTP. Pada 2002 misalnya, dirinya tidak boleh menikahkan anak perempuannya. “Saya dilarang oleh ketua KUA. Permadi tidak boleh mengawinkan anaknya, karena Permadi pengikut Kejawen bukan orang Islam,” kata ‘penyambung’ lidah Bung Karno ini. “Seorang bapak yang membuat anak, kok dilarang mengawinkan anaknya? Ini aturan apa?” sambungnya.

Masalah ini, katanya, telah dibawanya ke lembaga DPR. “Tapi DPR buta, tuli, dan bisu. Tidak ada reaksi apapun. Karena itu, saya sepakat perjuangan menghapuskan kolom agama dalam KTP harus didukung,” tegasnya.

Sedang Anand Krishna menyatakan, bibit perpecahan dan diskriminasi itu selain terjadi di kolom agama KTP, sebetulnya juga telah ditanamkan kepada anak-anak kita sejak usia yang sangat dini. “Saat pelajaran agama di sekolah misalnya, siswa dipisah dengan yang lain. Anak umur 7 tahun tahu bahwa ia tidak sama dengan yang lain. Ini pembodohan,” tegasnya. “Dan radikalisasi di negeri ini awalnya dari hal kecil seperti ini,” imbuhnya.

Dikatakan Anand, kolom agama pada KTP itu tak ubahnya senjata yang kita berikan kepada orang-orang tidak bertanggung jawab. “Berdasarkan kolom agama ini mereka bisa saling bunuh-membunuh,” tandasnya. “Makanya kita tarik dulu senjatanya, sambil kita berikan kesadaran. Karena senjata ini bukan kesepakatan kita bersama,” sambungnya.

Dalam visi dan misinya, NIM menyerukan untuk; pertama, menghapuskan diskriminasi. Kedua, pendidikan budi pekerti. Dan ketiga, mencintai alam. Acara ini dihadiri wartawan dari berbagai media massa dan berbagai aktivis dialog agama, termasuk dari the WAHID Institute.

16 thoughts on “Hapus Kolom Agama di KTP

  1. hariyanto setiawan

    ya …
    marilah kita tinggalkan agama…
    agama adalah racun………
    agama menghambat hidup kita……
    agama membelenggu kita……….
    mari kita buang jauh agama kita…….

    dan esok….
    berjumpalah dengan abu lahab, abu jahal, hitler, george bushh etc…..

    Reply
  2. Parameshwara

    Salam bagi Pejuang kemanusiaan,
    saya sangat setuju dengan cita-cita yang diusung oleh National Integration Movement dan Pendapat para manusia luhur seperti Dawam Rahardjo, Anand Krishna, Mama Lourent dan Gus Dur sebab kita hidup di planet ini terdiri dari berbagai agama; agama yang seharusnya hanya menjadi penghubung antara manusia dan Tuhan, malahan jadi pemicu konflik antar umat beragama…Kasihan deh..kembangkan doktrin kemanusiaan dan jangan berkutat dan putar-putar seputar perbedaan agama. Mari bung kita cari persamaan disetiap agama dan jangan mencari perbedaan, kita akan jadi kerdil selamanya…Semoga dunia ini memiliki martabat oleh penghuninya…Tuhan punya rencana besar sehingga Ia memfasilitasi manusia dengan wacana religi…silahkan pilih..dan jangan ribut…praktekkan dan jangan hanya teori dan berkelahi karena perbedaan tafsir…
    Saya do’akan semoga cita-cita National Integrated Movement yang luhur ini mendapat tempat di rasio manusia…

    Reply
  3. feryindrawan Post author

    Mas Hariyanto, mungkin yang dimaksudkan NIM tidak se-ekstrem yang anda maksud. Meskipun juga jika tidak berhati-hati, bisa jadi perjumpaan dengan hitler, abu jahal, dll yang anda sebut akan terjadi. Sehingga diperlukan suatu sistem masyarakat yang dapat mencegah hals tersebut.

    Saya sepakat dengan Bung Parameshwara, terutama landasan rasionalnya. Namun harus diakui pemikiran-2 seperti ini seperti pemikiran langitan. Pemikiran yang tidak merakyat, tidak membumi, sulit dipahami oleh orang kebanyakan, apalagi bagi saudara-saudara kita yang buat makan hari ini saja masih harus berjuang habis-habisan.

    Jadi sepertinya diperlukan pendekatan politis yang lebih kuat bagi kaum “jalan tengah” seperti NIM ini untuk mempopulerkan pola pikir ini. Namun kembali lagi, tanpa dukungan nyata dari masyarakat, hal ini akan sulit terjadi.

    Thanks atas comments-nya.

    Reply
  4. Jovan

    Menghapus kolom agama BUKAN BERARTI menghapus agama.

    Menghapus kolom agama BUKAN BERARTI tidak pede dengan agama atau keyakinan kita.

    Dua hal ini sering dijadikan pembenaran oleh pihak-pihak tertentu yang ingin Indonesia terpecah belah. Rakyat kita gampang sekali dipancing emosinya. Inilah penyakit bangsa ini. Rakyat yang bodoh dan gampang terpancing membuat bangsa ini semakin bodoh. Bangsa yang bodoh akan menghasilkan pemimpin yang bodoh.

    Oleh karena itu, hati-hati terhadap ucapan dan niat dari mereka yang ingin Indonesia terpecah belah.

    Menghapus kolom agama BERARTI mengembalikan hubungan pribadi kita dengan Tuhan, bukan lewat calo-calo agama yang mengeruk keuntungan memanfaatkan agama.

    Menghapus kolom agama BERARTI tidak membeda-bedakan atau menilai orang dari agamanya saja. Tetapi lebih kepada menilai orang pada pelaksanaan agama yang dianutnya.

    Dan setiap agama mengajarkan tentang CINTA.

    Aku Cinta Indonesia, Damailah Negeriku!

    Reply
  5. Sastrawan Manullang

    Menurut pendapat saya penghilangan kolom agama dalam KTP tidak akan menyelesaikan masalah bangsa kita. Kalau faktor agama dihilangkan dari keseharian nanti akan muncul faktor-faktor lain seperti ras, keturunan, kelas ekonomi dll. untuk tindakan-tindakan diskriminatif. Inilah yang selama ini sudah terjadi di banyak kalangan baik pemerintah maupun swasta, di negeri kita dan juga di negeri lain. Yang menjadi korban tentunya kaum minoritas. Inilah salah satu tantangan kebudayaan kita yang harus kita hadapi dengan peningkatan mutu pendidikan. Wajar saja kalau diskriminasi dan bentrok sosial masih sering terjadi di Indonesia di mana mutu dan tingkat pendidikan kita masih rendah. Saya kebetulan pernah menjadi bagian dari minoritas muslim di Australia pada saat terjadinya serangan teroris September 11. Waktu itu masjid kami dilempari batu dan diancam, dan banyak anggota komunitas kami dilecehkan dan bahkan diserang di tempat-tempat umum. Saat itu sangat sulit bagi kami untuk menjelaskan bahwa serangan tersebut tidak ada hubungannya dengan kami dan bahwa kami pun tidak mendukung aksi tersebut. Saya, sebagai orang Indonesia, saat itu keheranan melihat betapa picik dan bodohnya orang-orang Australia yang menurut kita selama ini lebih rasional dan lebih adil dibandingkan bangsa kita. Di pihak kami, pada awalnya kami ketakutan, dan masjid kami selama beberapa lama selalu dikawal oleh polisi. Tapi tak lama kemudian ketakutan itu berubah menjadi kepasrahan. Seakan kami semua sepakat bahwa kalau pun kami harus menjadi korban karena agama kami, maka biarlah itu terjadi. Pada akhirnya, bukankah itu makna dari beragama yang sebenarnya, yaitu meyakini sesuatu dengan seluruh jiwa dan raga? Di situ saya mengalami bahwa sebuah kelompok keyakinan/agama yang tertindas tidak akan mati begitu saja. Sebaliknya ia akan bertambah teguh walaupun secara fisik lemah. Jadi, kepada kelompok muslim yang senang menindas penganut agama lain, saya ingin sampaikan bahwa selain Anda menempuh jalan yang tidak Islami Anda juga hanya akan melemahkan Islam dalam kancah sosial-politik-kebudayaan dan bahwa agama yang Anda serang justru akan semakin kuat. Dan kepada para penganut nonIslam yang dirugikan dengan keadaan ini, terimalah simpati saya. Bersabarlah dan bekerja samalah dengan unsur-unsur dalam masyarakat yang mendukung keadilan dan perdamaian bagi semua manusia.
    Kembali ke KTP, penghilangan kolom agama akan menyebabkan orang menjadi malu mengakui identitas lengkapnya dan mendorong orang menjadi pembohong, inkonsisten, hipokrit dan menyangkal keyakinannya sendiri. Ini diderita oleh sebagian orang Barat yang tidak mampu menampilkan dirinya secara utuh padahal mereka mengaku menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Dengan mengisi kolom agama, saya mengajak semua umat beragama untuk berekspresi dengan jujur, rendah hati dan berdamai dengan semua unsur alam semesta.

    Karena pendidikan membutuhkan waktu lama untuk dilihat hasilnya dalam masyarakat, maka dalam waktu dekat mutlak diperlukan perbaikan-perbaikan politik dan hukum untuk menciptakan dan mempertahankan perdamaian serta melindungi semua pihak secara adil.

    Reply
  6. Sassy

    Tahu tidak, cuma Indonesia saja yang mencantumkan agama dalam kolom KTP. Banyak negara-negara di Timur Tengah tidak mencantumkan kolom tersebut karena dianggap tidak perlu.

    Agama adalah urusan manusia dengan Tuhan, bukan dengan negara. Oleh karena itu mengapa agama harus dicantumkan di kartu penduduk.

    Saat kita berteman dengan seseorang tanpa bertanya asal usulnya, kita bisa berteman dengan baik. Tapi coba, kalau Anda melihat KTP teman tersebut ternyata berbeda keyakinan dengan kita. Pasti pikiran Anda langsung otomatis menghindari orang tersebut. Pikiran kita sudah terprogram oleh lingkungan sehingga bereaksi sedemikian rupa. Inilah hasil cuci otak selama ini. Dan inilah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan ini disangkal oleh para tokoh-tokoh agama, karena mereka tidak mau disalahkan atas apa yang terjadi di negara ini. Mereka hanya melaporkan yang baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa.

    Dan kadang kolom agama di KTP hanya sebagai statistik saja untuk menentukan agama mana yang paling mayoritas. Kalaupun agama tertentu 80% penganutnya di Indonesia. Lantas apa? Apakah hal tersebut bisa mengurangi angka kemiskinan di negara ini? Apakah bisa mengurangi peperangan di negara ini?

    Kalau kolom agama di KTP dihapus, kita tidak akan melihat lagi perbedaan tersebut. Energi kita akan lebih fokus pada pengentasan kemiskinan, bukan lagi mengurusi masalah rendahan seperti kamu agamanya apa, kamu sukunya apa. Kenapa kita hanya melihat perbedaan saja, kenapa kita tidak fokus dan bekerja bersama-sama untuk membangun negara Indonesia menjadi lebih baik.

    Penghapusan kolom agama di KTP akan memberi kesadaran kepada masyarakat bahwa agama merupakan wilayah individu, bukan wilayah negara. Yang penting aplikasi dari ajaran agama tersebut, bukan identitas. Bila kita semua bisa hidup damai dan saling mencintai tanpa membeda-bedakan. Itulah keberhasilan ajaran agama. Itulah hasil dari agama, yaitu Cinta Kasih.

    Reply
  7. jablay

    Orang sekaliber dawam, permadi ect hanya ngurusin ngehapus kolom agama pada KTP. gak ada kerjaan lain apa?,. hapus gak dihapus gak ngaruh buat kita orang2 kecil bung…!, yang penting buat kami itu gimana supaya bikin KTP gak mahal itu yang penting sekarang

    Reply
  8. mbah keman bersabda

    Kolom agama itu penting …..yang bilang bikin konflik itu..harusnya kedewasaanya yang harus di tingkatkan…kalau kolom agama bikin konflik, kenapa gak sekalian tempat ibadah bikin konflik. atau pada intinyasa agama bikin konflik…hapuskan agama, suku bikin konflik. hapuskan saja suku….bener2 lucu… kolom agama di kpt adalah indentisan penting bagi kita..coba kalau kita mati..gak keuurus…di jalan…gak ada keluarga yang urus.. terus..di temukan agaman non kita..bisa di semayamkan…dengan cara agama kita..dan bayak hal positif lainya…

    Reply
  9. yunyun

    agama dari dulu memang sudah menjadi arena konflik di dunia ini, tapi kita juga harus ingat di setiap perjalanan umat manusia selalu ada tempat-tempat untuk sembahyang.di setiap agama tidak pernah di ajarkan kekerasan dalam bentuk apapun.faktor manusialah yang selalu membenarkan kekerasan dengan dalih agama.yang selalu salah itu hanya manusia jadi pemikiran masyarakat kita perlu di perbaharui.juga faktor pendukung agar tidak sering terjadi konflik(ekonomi).

    Reply
  10. Surjadie

    Wah…setuju banget nih. Walaupun mungkin bukan menjadi penyebab utama, setidaknya agama telah mengambil peranan sebagai pemicu perpecahan/kekerasan/diskriminasi. Identitas memang penting tetapi kalau banyak negatifnya lebih baik dihilangkan. Jika tempat ibadah juga bisa membikin konflik, maka lebih baik tidak mendirikan tempat ibadah. Sebagai gantinya, lebih baik mendirikan “Tempat Pendidikan Budi Pekerti Umum”, sehingga semua orang (masyarakat umum) bisa ikut serta berkontribusi dalam membangun keluhuran budi pekerti. Mata pelajaran agama A,B,C,dll bisa tetap diajarkan sebatas teori agar masyarakat bisa menilai kelebihan dan kekurangannya dengan lebih obyektif. Di dalam praktek budi pekerti, perbuatan kebajikan haruslah berdasarkan kebajikan itu semata. Dengan demikian tidak lagi mengunggulkan agama yang satu atau menjatuhkan agama yang lain. Kita bisa bersatu di dalam keluhuran budi pekerti.

    Reply
  11. cakcak

    manusia selalu pinginnya semua sama biar aman sesuai dengan kemauannya biar senang,memang dasar manusia adalah egois.
    Saya pikir latihlah diri untuk tidak egois tentu lebih baik.

    Reply
  12. Free Spirit

    Kolom Agama di KTP lebih baik DIHAPUSKAN karena bisa mengakibatkan DISKRIMINASI. Beberapa orang tersendat karirnya karena BEDA AGAMA.

    Kalau masalah penguburan yg tidak ada identitas agama di KTP, bisa dikuburkan dengan cara yang sopan dan manusiawi walaupun beda cara pemakaman.

    DAN SANG MAHA ADIL TIDAKLAH MENGHAKIMI SESEORANG MASUK NERAKA HANYA KARENA CARA PEMAKAMAN YG BERBEDA.
    KALAU ITU YG JADI MASALAH MARI KITA BERTANYA DIMANA KEADILAN SANG MAHA ADIL?

    Reply
  13. Soegana Gandakoesoema

    Buku Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika
    tersedia di
    Perumahan Puri BSI Permai Blok A3
    Jl. Samudera Jaya
    Kelurahan Rangakapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435
    Telp./Fax. 02177884755
    HP. 085 881409050

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s