Jammie Cullum dan Level 42 tutup Java Jazz III

JAKARTA: Gelaran tiga hari Dji Sam Soe Jakarta International Java Jazz Festival (JIJJF) 2007 atau Java Jazz ditutup tadi malam dengan penampilkan Jamie Cullum dan Level 42.
Tapi, berdasarkan pemantauan Bisnis, suasana tampak kurang meriah pada penampilan beberapa musisi jazz yang jadi andalan.

Misalnya saja penampilan Jamie Cullum. Suasana areal panggung salah satu jagoan Java Jazz itu tampak sepi penonton. Sangat jauh berbeda dengan penampilannya setahun lalu, kurang meriah.

Hal ini bisa jadi karena gaya musik Jamie yang kurang groovy menjadikan penampilannya kurang diminati penonton. Mereka tampaknya lebih memilih areal panggung bagian luar dengan penampilan beberapa artis lain.

Sementara kekhawatiran dengan situasi yang sama juga mencuat pada penampilan Level 42, karena banyak musisi andalan lain juga akan tampil pada jam yang sama.

Meski penonton tumpah ruah memadati stage 1 (Plenary Hall), suasana meriah pertunjukan kurang terasa. Hal itu dirasakan oleh salah satu penonton, Wakil Kepala Badan BPH Migas, Erry Hadi Purnomo.

Dia melihat penurunan greget itu sejak hari pertama meski raja fusion jazz Level 42 telah bermain maksimal.

“Bisa jadi itu karena harga tiket terlalu mahal dan jarak penyelenggaraan yang terlalu dekat dengan Jak Jazz, belum lagi banjir. Walau artis lebih banyak dari tahun lalu tapi artis yang kurang greget,” ujar Erry.

Catatan penting yang tak bisa dibantah konser bertajuk ini adalah lenyapnya nuansa anak muda dan band-band indie label.

Tahun lalu panggung pertunjukan musisi muda yang selalu padat. Tahun ini Java Jazz justru didominasi musisi-musisi tua.

Magnet tontonan

Harga tiket yang menjulang mahal, tiket harian seharga Rp400.000 hingga Rp800.000 (special show Jamie Cullum) memang tak membuat Java Jazz kekurangan penonton karena special perform masih menjadi magnet.

Mahalnya tiket justru membuat para penonton dari golongan snob (membeli tiket sekadar ikut-ikutan) tahun ini justru makin banyak.

“Para penonton golongan ini kalau tidak sibuk kesana-kemari pamer dandanan malah asyik ngerumpi atau baca buku kala penampil kelas dunia beraksi,” ujar seorang pimpinan puncak sebuah perusahaan minyak terbesar di dunia asal Eropa.

Kekurangan lain yang belum juga dibenahi dan banyak dikeluhkan oleh para penampil tahun lalu adalah sisi akustik gedung Jakarta Convention Center (JCC) yang masih bergaung.

Kurangnya informasi jadwal pertunjukan yang dicetak juga membuat banyak penikmat jazz yang berasal dari luar kota harus terkatung-katung bergelesotan di luar JCC.

Seperti Rini yang datang bersama rombongan dari Yogyakarta, terpaksa nongkrong di JCC sejak Jumat pagi karena ingin nonton Jamie Cullum gara-gara tidak punya selebaran jadwal.

Oleh Algooth Putranto, Diena Lestari & Suparmono Hadisusanto
Bisnis Indonesia

One thought on “Jammie Cullum dan Level 42 tutup Java Jazz III

  1. Astrini

    walopun msh byk kekurangan, Java Jazz Festival tetep jd slh 1 event terBESAR yg juga mempopulerkan nama baik Indonesia di luar negeri.

    berkat event ini, pengetahuan musik jazz saya jd bertambah dan saya jd mengenal musisi2 hebat yg sebelumnya belum saya kenal.

    IT WAS A BLAST!!! -astrini, 15 thn

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s