Etnis Tionghoa & ekonomi RI

Imlek 2558 dengan Shio Babi Api tahun ini rasanya tepat untuk merefleksikan keberadaan masyarakat Tionghoa dalam geliat ekonomi nasional. Ini penting, mengingat kiprah pebisnis etnis Tionghoa belum gampang diterima,meski tak dapat dipungkiri banyak sektor bisnis, dari hulu sampai hilir, mereka kuasai, baik secara mandiri maupun berkongsi dengan pengusaha pribumi atau investor asing.

Banyak di antara mereka tumbuh sebagai pebisnis besar, terutama setelah menjadi mitra pemerintah/penguasa Orde Baru yang memilih strategi ekonomi pasar, antara lain dengan liberalisasi industri dan keuangan.

Ternyata kalangan pebisnis Tionghoa lebih jeli menangkap peluang dari berbagai kebijakan pemerintah kala itu seperti industri orientasi ekspor, substitusi impor, penanaman modal asing (PMA), penanaman modal dalam negeri (PMDN), liberalisasi sektor keuangan, dan sebagainya.

Banyak pebisnis Tionghoa pun kemudian berhasil mengembangkan bisnis berskala raksasa yang kerap disebut konglomerat. Sebelum krisis (1992-1996), data Pusat Data Business Indonesia mencatat 300 konglomerat-mayoritas keturunan Tionghoa-menguasai penjualan Rp227,2 triliun dengan aset Rp425 triliun. Sebaliknya, 167 BUMN mencatat penjualan Rp106,3 triliun dan aset Rp361,9 triliun.

Bandingkan dengan ribuan koperasi yang hanya mencatat penjualan Rp2,3 triliun dan aset Rp6,57 triliun. Pada kurun waktu yang sama, produk domestik bruto Indonesia baru Rp528,9 triliun.

Pada 1990-1997, sekitar 380 proyek PMDN senilai Rp152,5 triliun atau 70% dari porsi investasi dalam negeri dikuasai konglomerat. Lalu pada proyek PMA, konglomerat menguasai 57% (128 proyek dengan nilai US$35,4 miliar).

Sektor pasar modal juga begitu rupa. Konglomerat memanfaatkan pasar modal untuk menggalang dana, baik melalui pencatatan perdana (initial public offering-IPO) maupun penawaran umum terbatas (right issue).

Sebagai contoh, pada 1989 terdapat 37 perusahaan melakukan IPO senilai Rp1,7 triliun, di mana 34 perusahaan terkait dengan konglomerat keturunan Tionghoa dengan penguasaan 96,9%.

Secara keseluruhan, dalam periode 1989-1997, terdapat 247 perusahaan melakukan IPO, di mana 210 perusahaan terkait konglomerat dari 125 grup. Sedangkan 100 perusahaan yang melakukan right issue pada periode itu, 96%-nya merupakan perusahaan terkait konglomerat.

Bangkit kembali

Krisis ekonomi 1998 memicu banyak konglomerat-terutama keturunan Tionghoa-ambruk, karena menggunakan bank sendiri untuk mendanai proyek bisnis dengan rentabilitas rendah.

Alhasil pemerintah memberikan bantuan likuiditas Bank Indonesia. Lalu banyak perusahaan konglomerat dilego kepada investor baru melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional.

Apakah setelah krisis 1997-1998 kekuatan konglomerat keturunan Tionghoa meredup? Dengan menggunakan data Bursa Efek Jakarta, saya menghitung perusahaan milik konglomerat hanya mengalami kontraksi setahun, yaitu periode 1997-1998.

Sebelum krisis (1992-1996), sebanyak 30 top konglomerat (25 di antaranya adalah keturunan Tionghoa) menguasai 52% aset, 42% ekuiti dan 57% utang. Pada periode krisis (1997-1998) mereka menguasai 38% aset, 31% ekuiti dan 40% utang. Sedangkan setelah krisis (1999-2001), 30 top konglomerat menguasai 61% aset, 57% ekuiti dan 66% utang.

Saat ini, saya proyeksikan penguasaan bisnis konglomerat keturunan Tionghoa masih kuat, baik melalui kepemilikan secara langsung, perusahaan acting (nominee) ataupun pemain baru.

Ringkasnya, konglomerat keturunan Tionghoa tetap kokoh menguasai kegiatan ekonomi Indonesia. Apalagi saat ini disinyalir banyak konglomerat keturunan Tionghoa, yang pernah membawa pergi uangnya ke luar negeri, telah kembali ke Indonesia melalui kendaraan perusahaan asing. Lihat saja, usaha mereka tetap jalan dan menggurita dengan modal sendiri, malah tanpa bergantung lagi kepada bank.

Masyarakat Tionghoa memang memiliki kelebihan naluri bisnis, lengkap dengan konotasi positif maupun negatif. Masyarakat Tionghoa pada dasarnya meyakini ada lima faktor yang memengaruhi hidup manusia yaitu nasib pada saat lahir, hoki, feng shui, pendidikan/pengalaman dan amalan.

Ketiga yang terakhir itu diyakini dapat diubah dengan usaha keras guna mencapai sukses. Karena itu, mereka tidak mudah menyerah pada nasib, yang menjadikan masyarakat Tionghoa lebih ulet, kuat dan tahan bersaing.

Harus diakui, pebisnis keturunan Tionghoa memiliki aset modal, kemampuan bisnis dan jejaring. Sayangnya, ulah buruk segelintir pebisnis Tionghoa yang merugikan negara telah melahirkan cap buruk bagi sebagian besar masyarakat Tionghoa lainnya.

Namun, ada baiknya kita lebih memikirkan sisi positif dalam melihat etnis Tionghoa, terutama alam etos pekerja keras maupun profesionalisme dalam berbisnis. Meski tak dipungkiri masih ada praktik pat gulipat, perilaku itu tidak akan terjadi jika tidak ada mitra atau oknum yang mau diajak pat gulipat. Apalagi penegakan hukum di Indonesia masih lemah.

Namun, kita tidak perlu terjebak dalam primordialisme masa lalu. Diskriminasi no, solidaritas yes, seperti tekad Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mari kita tunggu komitmen pemerintah dalam menangani para pebisnis keturunan Tionghoa secara lebih proporsional. (rofikoh. rokhim@bisnis.co.id)

Oleh Rofikoh Rokhim
Ekonom Bisnis Indonesia

4 thoughts on “Etnis Tionghoa & ekonomi RI

  1. Hilmy (mahasiswa UMY)

    Assalamu’alaikum ww…..
    maaf sebelumnya ibu Rofikah Rokhim yang saya hormati…..
    saya adalah salah satu mahasiswa UMY ( Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) Jurusan Ilmu Hubungan Internasional yang sedang menyusun skripsi tentang “Kebijakan Pemerintah Indonesia Terhadap Imigran Cina dalam pengaruhnya terhadap peningkatan ekonomi Indonesia”. dan saya kesulitan dalam mencari bahan dalam tulisan saya ini. mungkin ibu dapat sedikit membantu dengan menuliskan pendapat ibu mengenai pengaruh imigran cina terhadap peningkatan ekonomi dalam negeri (indonesia), apakah mereka menyumbangkan banyak pengaruh positif terhadap peningkatan ekonomi indonesia? dan bagaimana bentuk riilnya?(contoh) atau malah sebaliknya mereka hanya akan merugikan perekonomian Indonesia dengan cara perekonomian Indonesia dikuasai oleh orang cina saja dan penduduk lokal kalah bersaing dengan imigran cina?. Dan bagaimana kebijakan pemerintah Indonesia dalam hal ini, apakah kebijakan pemerintah selama ini memberikan kebebasan terhadap imigran cina? dan bagaimana sebaiknya menurut ibu.
    besar harapan saya kepada ibu meluangkan waktunya untuk membalas beberapa pertanyaan saya.
    saya ucapkan banyak terima kasih kepada ibu.
    Wassalamu’alaikum WW.

    Reply
  2. Hilmy

    Assalamu’alaikum ww…….
    akan tetapi bagaimana dengan pengaruh positif mereka terhadap ekonomi indonesia…???
    mungkin bisa ibu jelaskan lebih detail sumbangan-sumbangan apa saja yang telah diberikan para etnis cina terhadap meningkatnya perekonomian indonesia baik materil maupun non materil….
    karena selama ini saya belum bisa menemukan jawaban dari bagaimana pengaruh etnis cina terhadap peningkatan ekonomi indonesia secara jelas, dalam hal ini memberikan efek positif.
    terima kasih atas waktunya…..
    Wassalamu’alaikum ww……

    Reply
  3. Helmy (mahasiswa UMY)

    Assalamu’alaikum ww…….
    oya saya pernah membaca sebuah artikel yang menjelaskan beberapa Karakteristik budaya Tionghoa yang dapat mempengaruhi perekonomian indonesia meningkat antara lain yaitu kekuasaan dan otokrasi (Power and
    Autocracy), kekeluargaan (Familism), jaringan
    relasi (Guanxi), harga diri dan wibawa (Face and
    Prestige), serta fleksibel dan bertahan hidup
    (Flexibility and Endurance). Dengan karakteristik
    inilah dianggap etnis Tionghoa di Indonesia
    memiliki pengaruh terhadap dunia perekonomian,
    terutama sektor bisnis. selain itu pula keberadaan etnis tionghoa dalam anggota dewan mempengeruhi nilai perusahaan.
    (Sari Kusumastuti, Supatmi, dan Perdana Sastra Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga)
    dan saya mohon kepada ibu untuk menjelaskan beberapa karakteristik diatas dalam pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia karena saya kurang begitu mengerti dengan itu semua dalam aplikasinya terhadap perekonomian Indonesia dan saya tidak bisa menanyakan kepada sipenulis secara langsung karena email tidak dicantumkan.
    saya ucapkan banyak-banyak terima kasih atas waktu dan penjelasan yang ibu berikan kepada saya.
    Wassalamu’alaikum ww……

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s