Lucunya Banjir Jakarta

Jakarta, Banjir dimana-mana. Tapi yang paling tragis dan ironis, banjir yang melanda Jakarta. Ibukota dari negeri yang berpenduduk ratusan juta jiwa itu terendam berhari-hari. Listrik padam, sambungan telepon putus. Warga dengan wajah tegang terjebak di genteng-genteng rumah.

Sebagian lagi mengarungi kubangan air. Dengan membawa buntelan berisi harta yang bisa diselamatkan, mereka melawan air yang berarus deras itu. Kepanikan seperti itu tidak hanya dilakukan penduduk miskin yang tinggal di kampung kumuh atau bantaran kali, tapi juga di perumahan elit Jakarta.

Dimana-mana tampak orang menghiba. Mereka memohon pertolongan, dan juga bantuan. Malah di jalan-jalan, kaleng dan kardus diedarkan. Mencegat orang yang lalulalang agar memberikan uang sekadarnya untuk keperluan makan dan kebutuhan primer lainnya.

Sedang di tengah itu, orang-orang yang mengais rejeki di tengah musibah itu masih dengan gagahnya berkomentar agar pemerintah atau siapa saja yang perduli secepatnya memberi bantuan. Alasannya, ia hanya memperoleh pendapatan Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu per harinya. Suatu jumlah yang terbilang besar bagi pendapatan orang daerah.

Respons terhadap bencana dan dampaknya itu amat kontras dengan kasus serupa yang melanda Yogyakarta beberapa waktu lalu. Kota Gudeg yang hancur, kehancurannya tidak sangat ditangisi. Ratapan tidak terkeluarkan karena kelaparan. Bahkan bantuan yang dijanjikan pun tidak diharap-harap. Apalagi janji itu ternyata memang hanya berujut janji-janji.

Pemandangan macam itu, bagi masyarakat daerah terasa lucu sekaligus haru. Betapa Jakarta yang pongah dan sombong itu, tetap saja sombong di tengah penderitaannya. Sedang keharuan muncul, karena bencana ini menimbulkan kesadaran baru bagi orang daerah, bahwa penderitaan orang miskin ternyata lebih bisa ternikmati ketimbang orang kaya yang menderita akibat musibah.

Apalagi, bagi pemikiran orang daerah, penderitaan yang dialami Jakarta itu memang disengaja. Pemerintah DKI dan rakyatnya kompak. Sengaja membiarkan diri tertimpa musibah. Ramai-ramai menyambut derita. Tetapi sayang, ramai-ramai pula tidak siap menerima dampak yang diakibatkannya.

Disebut disengaja, karena banjir Jakarta tidak hanya sekali terjadi. Semua rakyat dan pemerintah daerah Jakarta paham, banjir di daerahnya terjadi lima tahun sekali. Mereka sadar, air jutaan meter kubik itu akan merendam kotanya. Dan mereka juga paham, apa dampak yang akan terjadi jika air itu datang lagi.

Uniknya, semua warga DKI juga tahu solusi untuk mengantisipasi banjir itu. Untuk itu kalangan rakyat membangun rumahnya lantai dua atau tiga, siap beras dan lauk untuk menyiapkan diri jika banjir tiba. Sedang pemerintah DKI tahu, banjir bisa ‘diarahkan’ dengan pembangunan bendungan kanal barat dan kanal timur.

Untuk itu, jika semua tahu terhadap siklus banjir, antisipasi terhadap banjir, dan solusi mencegah banjir tetapi tidak dilakukan, maka jadi terasa lucu, jika banjir itu datang ternyata semuanya tidak siap menerima banjir itu. Mereka bengok-bengok (berteriak) kebanjiran dan minta bantuan.

Bagi pikiran daerah, ini kelucuan yang sangat lucu. Banjir yang ‘diinginkan’ orang Jakarta itu, ternyata ketika datang justru membuatnya girap-girap. Adakah akan begitu pula di lima tahun mendatang?

Keterangan Penulis:
Djoko Su’ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.

2 thoughts on “Lucunya Banjir Jakarta

  1. Agung Ud

    saya berdoa, semoga suatu saat anda merasakan apa yang kami rasakan. Dimana, semuanya menjadi tidak ada kembali.
    Sehingga anda tidak lagi mengatakan “lucu” pada penderitaan kami.
    Amiin….semoga Allah mengabulkan doa kami.

    Reply
  2. feryindrawan Post author

    Saya juga merasakan judul artikel yg saya kompulir tsb agak provokatif dan terkesan tidak berperasaan. Setelah saya baca dan mencoba mencari tahu isinya, rasanya ada something yg memang bisa diambil sebagai pelajaran. Mudah-mudahan kita betul-2 dapat mengambil pelajaran yg dimaksud. Thanks sudah comment.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s