Masterpiece Mel Gibson kembali gagal

Dalam deretan film terbaik yang masuk nominasi Oscar tahun ini, sutradara terbaik Oscar 1995 lewat film Braveheart Mel Gibson lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Pasalnya film terbarunya Apocalypto hanya masuk nominasi kategori hiburan.
Seperti dikutip dari situs http://www.oscar.org film kolosal tentang kehidupan suku Indian Maya itu hanya meraih nominasi make-up terbaik, editing suara terbaik dan tata suara terbaik.

Tidak menutup kemungkinan Apocalypto bakal mengalami nasib serupa dengan film garapan Mel terdahulu tentang berdarah-darahnya peristiwa penyaliban Yesus Kristus lewat Passion Of The Christ (2004).

Semua pihak masih ingat, dalam Oscar 2005, Passion yang menggunakan bahasa Latin dan Aram itu juga kebagian tiga nominasi hiburan yaitu sinematografi terbaik, makeup terbaik dan score terbaik.

Namun, fakta menunjukkan tak satu pun Oscar yang mampir ke film yang digarap dengan bujet US$30 juta dengan bintang James Caviezel, Maia Morgenstern dan Monica Bellucci itu.

Padahal film yang sempat membuat heboh Indonesia di tahun 2005-karena menjadi satu-satunya layar perak yang diputar oleh stasiun televisi Trans TV tanpa satu pun iklan-itu berhasil mengumpulkan pendapatan hingga US$611,89 juta.

Kali ini terkait film Apocalypto, dalam perbincangannya dengan majalah Time, Mel menjelang syuting filmnya itu sudah menegaskan sejak awal tidak akan menjadikan Oscar sebagai ukuran keberhasilan karyanya yang penggarapannya cukup sulit itu.

Maklum saja kekalahan Passion dipandang banyak kalangan memang lebih banyak disebut-sebut karena sentimen kaum Yahudi yang mengusai Oscar. Mau bagaimana lagi, film itu memang mengumbar kekejaman dan keculasan komunitas Yahudi.

Apalagi menjelang dirilisnya Apocalypto, Mel justru kedapatan mabuk saat ngebut dan mengumpat kaum Yahudi. Akibatnya sentimen warga Yahudi sontak menguat. Hasilnya sudah bisa terlihat dari seretnya nominasi bagi film eksotik ini.

Nasib Apocalypto memang sudah diprediksi koran ekonomi terbesar di AS, The New York Times. Meski didirikan klan Yahudi, Times secara obyektif menyatakan kemungkinan sentimen para juri akan kembali diambil tanpa malu-malu oleh dewan juri Oscar yang tergabung dalam Academy of Motion Pictures Arts and Sciences.

Kritik keras media ke dewan juri tak hanya dilakukan Times tetapi juga dilakukan media massa terkenal dan berpengaruh seperti Variety, Rolling Stone, hingga The Hollywood Reporter. Namun, dewan juri hanya tutup kuping dan terus melaju.

Bahasa Maya

Media-media cetak di AS memandang Apocalypto seharusnya pantas menjadi salah satu unggulan dalam kategori film terbaik mengingat ide cerita yang diangkat sangat eksotik dan menantang.

Apocalypto yang naskahnya ditulis Mel Gibson dan Farhad Safinia mengambil latar belakang kehidupan bangsa Indian Maya Abad 16 sebelum kedatangan para panglima kulit putih (virocochas) seperti Cortez, Pedro de Alvarado di Guatemala dan Francisco Pizarro di Peru.

Film ini menceritakan kebudayaan suku Indian Maya yang sudah punah. Suku Maya dan Aztec yang bermukim di wilayah yang kini disebut negara Meksiko ini terkenal dengan seni arsitektur, matematika dan astronominya yang maju

Dikisahkan, ketika itu Maya diperintah oleh seorang kepala suku (Mauricio Amuy Tenorio) yang memiliki keyakinan bahwa kunci dari kemakmuran dan kekayaan bagi suku yang dipimpinnya adalah dengan cara membangun banyak kuil atau teocalli dan juga butuh pengorbanan jiwa.

Untuk itu diperlukan banyak manusia yang harus disembelih oleh dukun (Miguel Angel Galvan) sebagai persembahan bagi dewa keagungan Huitzilopochtli dan dewa hujan Tlaloc.

Semua berjalan lancar, korban terus berjatuhan di rumah dewa dan alam terus memberikan kemakmuran bagi bumi Maya hingga suatu ketika seorang anak muda Jaguar Paw (Rudy Youngblood) terpilih sebagai korban berikutnya.

Jaguar tak terima dengan nasib yang digariskan baginya. Dia pun memilih melarikan diri menyelamatkan diri dari takdir kejam. Sayang kebimbangan menyelimutinya. Jaguar kembali pulang menemui orang yang dicintainya sekaligus menyelamatkan dirinya.

Syuting film ini dikerjakan di Catemaco dan Paso de Ovejas di negara bagian Veracruz, Meksiko. Entah apakah dewa hujan Tlaloc tersinggung, hujan berkepanjangan turun deras menghambat proses syuting.

Akibatnya tayang perdana film yang menggunakan bahasa asli Indian Maya ini molor dari jadwal semula yang direncanakan 4 Agustus 2006 menjadi 8 Desember 2006.

Saat dirilis awal akhir tahun lalu, Apocalypto yang mendapat kucuran dana senilai US$40 juta dari Walt Disney Company itu sampai pekan lalu sudah meraup pendapatan tak kurang dari US$87, 89 juta.

Satu angka pendapatan yang termasuk sangat lumayan bagi sebuah film yang kenyataannya dimusuhi komunitas Yahudi yang juga menguasai jalur distribusi film dan bioskop di AS. Maju terus Mel! (algooth.putranto@bisnis. co.id)

Oleh Algooth Putranto
Wartawan Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s