Pendapatan Telkom Flexi Naik

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., (Telkom) memproyeksikan divisi Telkom Flexi akan memberikan kontribusi pendapatan lebih dari Rp 3 triliun tahun ini. Pada 2006, divisi ini menyetorkan penerimaan sekitar Rp 2 triliun.

“Pendapatan Telkom Flexi akan semakin baik kalau rencana pemisahan divisi ini terealisasi,” papar Direktur Utama Telkom Arwin Rasyid di Jakarta, kemarin. “Tapi, spin off ini masih wacana.”

Pada September 2006, Flexi mencatat penerimaan Rp 1,9 triliun dengan jumlah pelanggan 4,1 juta, serta belanja Rp 2 triliun.

Menurut Arwin, tahun ini, pelanggan Flexi ditargetkan naik 47 persen menjadi 6,1 juta nomor pelanggan. Untuk itu, perseroan membutuhkan sekitar 937 BTS (Base Transceiver Station). Rencana belanja diperkirakan sama dengan tahun lalu, sekitar Rp 2 triliun.

Untuk jumlah pelanggan telepon rumah Telkom, tahun lalu tercatat 9 juta. Sedangkan untuk telepon seluler di bawah Telkomsel mencapai 34,9 juta pelanggan. Arwin mentargetkan, pelanggan seluler tahun ini naik di atas 20 persen.

Pada kuartal pertama 2007, Arwin melanjutkan, perseroan juga merencanakan PT Telkom Internasional mulai beroperasi. Aksi korporasi membentuk anak usaha ini tinggal menunggu persetujuan komisaris. “Setelah disetujui, Telkom Internasional langsung beroperasi,” ujarnya.

Dia menambahkan, langkah awal Telkom Internasional adalah mengelola operator telekomunikasi milik Equador. Telkom telah menandatangani nota kesepahaman untuk menjadi operator telekomunikasi itu. “Tapi terlalu dini untuk membicarakan nilainya,” ujarnya.

Selain itu, dia melanjutkan, Telkom juga sedang menjajaki pengambilalihan salah satu operator satelit di Afrika. Ini merupakan bagian rencana ekspansi di luar negeri untuk meningkatkan kapitalisasi pasar Telkom menjadi US$ 30 miliar pada lima tahun mendatang.

Terkait dengan rencana ekspansi ini, Telkom mengalokasikan total belanja modal (capital expenditure) Rp 15-20 triliun. Dari seluruh dana itu, sekitar Rp 13,5 triliun dialokasikan untuk pengembangan bisnis seluler, Rp 1,8 triliun untuk jaringan telepon tetap nirkabel, dan Rp 450 miliar untuk bisnis penyedia layanan akses Internet Speedy.

Secara terpisah, analis menilai, pemisahan divisi Telkom Flexi dengan divisi seluler tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan kontribusi pendapatan. Pemisahan itu, menurut Arhya Satiagraha dari PT Trimegah Securities Tbk, hanya akan berpengaruh untuk peningkatan fokus pangsa pasar CDMA.

“Karena fokusnya adalah bagaimana membangun pasar CDMA untuk jangka panjang,” kata dia.

Arhya menambahkan, analisa itu didasarkan kepada pangsa pasar CDMA yang masih kecil di Indonesia. Selain itu, pangsa pasar Telkom Flexi dianggap masih kurang. Sehingga, ada peluang luas untuk melebarkan pangsa pasar termasuk ekspansi ke luar Pulau Jawa.

YULIAWATI/EKO NOPIANSYAH/WAHYUDIN FAHMI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s