3G Vs WiMax, Siapa yang Menang?

Belum lama layanan 3G digelar operator, pemerintah belum lama ini mengumumkan akan menenderkan layanan WiMax, layanan berbasis akses Internet pita lebar nirkabel. Akankah layanan 3G dan WiMax saling bersaing memperebutkan pasar di layanan nirkabel.

Akhir-akhir ini, kita selalu dicekoki promosi mengenai 3G di semua lini mengenai informasi. Wajar promosi soal 3G saat ini lagi gencar-gencarnya. Sedikitnya tiga operator-Telkomsel, Excelcomindo dan Indosat-telah meluncurkan layanan terbaru di industri seluler itu.

Sementara pesaing GSM, teknologi CDMA melalui StarOne, Mobile-8 sudah menggelar layanan CDMA2000 1X EV-DO, layanan sejenis dengan 3G di GSM. Sebenarnya, Sampoerna dengan merek dagang Ceria tanpa promosi yang gegap gempita terus mempersiapkan layanan berkecepatan tinggi pada frekuensi di 450 Mhz dan siap masuk ke layanan sejenis tersebut.

Belum lama masyarakat disuguhi soal teknologi 3G, kini mereka dikejutkan dengan ramainya pembicaraan teknologi WiMax (World Interoperability for Microvawe Access). Tentunya pembaca bertanya-tanya binatang apa lagi itu? Ya WiMax merupakan akses Internet pita lebar nirkabel yang bisa diakses hingga radius hingga 50 kilometer.

WiMax terdiri dua layanan yakni Fixed WiMax yang mengacu pada pemanfaatan teknologi untuk terminal yang berposisi tetap. Sedangkan Mobile WiMax mengacu pada teknologi nirkabel pita lebar untuk perangkat komunikasi bergerak.

Kelebihan WiMax memiliki kecepatan transfer data hingga 70 Mbps dan jarak jangkauan hingga 50 km. Dinyatakan pula pada tahap awal akan diterapkan untuk layanan fixed dengan teknologi IEEE 802.16d. Seperti diketahui bahwa WiMax dengan standar IEEE 802.16 terdiri atas 802.16a/d revisi untuk fixed, 802.16e untuk mobilitas terbatas (nomadic), dan 802.20 untuk mobilitas yang penuh.

Awal Desember lalu, pemerintah melalui Menteri Informasi dan Komunikasi Sofyan Djalil resmi mengumumkan segera menenderkan layanan ini akhir tahun ini atau awal 2007 terutama pita frekuensi 2,3 Ghz. Menyusul kemudian pita 2,5 Ghz dan 3,5 Ghz.

Tidak tanggung-tanggung, seperti dirilis BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia)-badan yang bertanggung jawab mengatur soal telekomunikasi, lebih dari 50 perusahaan telah menyatakan minatnya untuk mengikuti tender WiMax, termasuk operator telekomunikasi seperti Telkom, Indosat, dan Excelcomindo.

Hasnul Suhaimi, dirut PT Excelcomindo kepada Tren Digit@l mengemukakan minatnya untuk masuk ke layanan WiMax. Namun, dia menyarankan agar dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi perusahaan untuk masuk layanan itu.

Nah, bila ini yang terjadi, fenomena pada industri seluler dengan pelanggan mencapai 60 juta atau 25% dari total penduduk Indonesia akan terjadi pada WiMax. “Kami sudah siap di layanan itu termasuk infrastrukturnya.”

Teknologi Alternatif

Memang Wimax akan menjadi salah satu teknologi alternatif di masa mendatang. Namun yang menjadi persoalan akankah teknologi WiMax bisa diterima di masyarakat dan menjadi pesaing layanan 3G yang baru digelar kalangan operator seluler? Inilah pertanyaan yang mengemuka menyusul rencana digelarnya WiMax tersebut.

Dalam kesempatan ITU (International Telecommunication Union) Telecom World 2006 di Hong Kong belum lama ini, layanan WiMax menjadi perbincangan cukup serius. Bahkan, beberapa peserta di forum itu mengemukakan layanan WiMax akan lebih murah dibandingkan layanan jaringan bergerak 3G.

Inilah yang didengung-dengungkan kalangan pendukung yang menginginkan layanan ini segera menjadi produk yang massal. Namun pendapat ini dibantah kalangan industri terutama pemegang paten. Menurut prediksi mereka, perkembangan teknologi nirkabel itu tidak seperti yang dijanjikan.

Sebuah survei pasar yang dilakukan Pyramid Researd menunjukkan dari 100 perusahaan TV kabel dan operator telekomunikasi di seluruh dunia, sedikitnya 75 perusahaan akan menggunakan teknologi berbasis jaringan WiMax.

“Kecepatan broadband lebih cepat dibandingkan 3G. Bahkan bisa dikatakan dua tahun lebih cepat dibandingkan 3G,” kata Ozgur Aytar, analis Pyramid itu.

Harus diakui, tambahnya, itu tidak menjadi alasan bagi operator seluler untuk keluar dari bisnis jaringan seluler-yang dibangun dengan dana miliaran dolar, tapi mereka menciptakan peluang melalui akses pita lebar nirkabel sebagai komplimen jasa telepon tetap atau jaringan seluler.

“Kami yakin WiMax akan lebih murah. Ketika Intel memulai meluncurkan chip Wi-Fi/Wimax, produk Wimax hanya menambah US$5 dari biaya Wi-Fi,” kata Mohammad Shakouri, vice president marketing of the WiMAX Forum di acara ITU Telecom World 2006 di Hong Kong belum lama ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah apa WiMax akan lebih murah? Beberapa kalangan mengharapkan demikian. Mereka mengharapkan pengembang chip WiMax tidak terlalu banyak meraih untung untuk produk chip-nya denngan kisaran 5% hingga 10%, atau dengan margin yang minimal. Bahkan bila perlu tidak mengambil margin.

Namun, Chief executive Ericsson Carl-Henric Svanberg mengemukakan telah ada salah persepsi layanan Wimax akan lebih murah dibandingkan teknologi seluler lainnya. Ericsson merupakan salah satu dari dua perusahaan dunia yang memegang paten teknologi tersebut. “Biaya pengembangan WiMax sama dengan teknologi wireless lainya. Namun, hak paten akan lebih murah dibanding teknologi lainnya,” tambahnya.

Tero Ojanpera, Kepala bidang teknologi Nokia berpendapat sama dengan Ericsson. “Pertanyaan mengenai hak paten sama dengan teknologi lainnya.”

Sara Harris, analis dari Strategy Analitics menambahkan, pihaknya melihat WiMax baru akan booming pada awal dekade mendatang. Bahkan, tambahnya, pengguna Wimax hanya mencapai 6% dari 500 juta pengguna teknologi berbasis nirkabel pita lebar pada 2010.

Apa yang dikemukakan itu bisa terjadi di Indonesia. Operator telekomunikasi tentunya tidak ingin layanan 3G dengan investasi yang besar menjadi sia-sia dan tersaingi dengan munculnya WiMax. Sedangkan harapan kalangan BRTI yang mengharapkan layanan WiMax akan lebih difokuskan di daerah rural tentunya adalah tidak mungkin.

Daerah rural identik dengan segala keterbatasan. Sedangkan, teknologi WiMax lebih tepat diperuntukkan bagi akses data sehingga sarat dengan penggunaan PC, notebook, PDA atau Smarthphone dan diketahui produk itu masih tergolong produk mahal di negeri ini. Jadi munculnya teknologi WiMax belum akan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat selama tidak ada kebijakan dari pemerintah dengan meluncurkan PC yang bisa dijangkau masyarakat. (Sumber: Trendigital)

2 thoughts on “3G Vs WiMax, Siapa yang Menang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s