Belajar golf di Afrika Selatan

Postur tubuh Fadhli Rahman Soetarso memang kecil. Umurnya baru genap 10 tahun dan duduk di kelas enam sekolah dasar. Namun prestasinya di bidang golf cukup mencengangkan. Banyak orang terkagum melihat gerakan tangan dia saat mengayunkan stik, diiringi dengan sedikit liukan tubuh dan kakinya yang harmonis. Hasilnya pukulan bola yang tajam dan akurat. Maka pantaslah anak dengan panggilan akrab Fadhli itu menjadi salah satu pegolf junior nasional yang senantiasa diperhitungkan pada turnamen bertaraf nasional, regional dan internasional yang diselenggarakan di dalam atau luar negeri.

Misalnya baru-baru ini dia bersama beberapa rekan seprofesi yang usianya sama mewakili Indonesia tampil mengikuti turnamen American Junior World Golf Championship di padang golf Sandiago AS.

Walupun prestasinya belum memuaskan, tetapi permainannya cukup mengharumkan nama Indonesia. Teknik pukulannya elegan dan sulit ditandingi oleh anak seusianya dari negeri lain.

Fadhli dan teman senegaranya dinilai memiliki teknik bermain yang cukup cemerlang untuk menyongsong masa depan dunia golf nasional. Kekurangan mereka terletak pada faktor nonteknis yang justru mengganggu ketegaran semangat juangnya

Rupanya Fadhli bersama temannya kurang siap dengan tata cara yang ada, misalnya seorang pegolf harus memanggul sendiri seluruh perlengkapan golfnya karena tidak boleh didampingi caddy, berbeda dengan yang biasa dialami di Tanah Air.

Bagi anak kelahiran Jakarta pada 21 April 1996 itu, pengalaman mengikuti turnamen di AS merupakan pelajaran baru yang sangat berharga untuk mengasah bakat, ketrampilan, serta penempaan mental dan semangatnya.

Rasa percaya diri dan mental yang kuat harus dimiliki oleh semua pegolf agar mapu tampil sempurna dengan tenang dan cermat untuk menghasilkan pukulan yang akurat mencapai sasaran.

Tentu kemampuan Fadhli tidak dapat dilepaskan dari dukungan kuat dari kedua orang tuanya, sang ayah Dading Soetarso dan ibu Andri, sejak berusia empat tahun ketika masih bermukim di Gaborone, Botswana, yang dilanjutkan di Afrika Selatan.

Kedua orang tuanya mengarahkan dia diikutkan pelatihan golf untuk mendapatkan dasar permainan yang baik yaitu di Lost City Golf Course di Sun City serta The Gary Player Golf Academy di Johannesburg dan Gaborone.

Sekembalinya ke Jakarta, ketika masa tugas kerja Dading Soetarso berakhir, dia melanjutkan latihannya di lapangan golf Bumi Serpong Damai Tangerang Banten, Pangkalan Jati dan Rawamangun Jakarta pada setiap Sabtu dan Minggu.

Sedangkan untuk mengasah kemampuannya, siswa kelas enam SD Global Jaya Bintaro Jakarta itu melakukannya di area khusus bermain golf yang terdapat di halaman samping rumahnya di perumahan Astya Puri Bintaro untuk melakukan pukulan kuat (swing) mapun pukulan sedang dan pelan (putting stroke).

Berkat ketekunannya berlatih dia berhasil menggondol banyak piala dan tanda penghargaan lainya atas prestasi yang telah diraih dan sebagian besar juara pertama.

Di antara piala yang mejeng di lemari ruang keluarganya sebagai juara pertama a.l. Tournament Golf Junior best gross 2 BSD Golf Cours (Nopember 2006), The Jakarta Asean Junior Golf Championship (Mei-Juni 2006), Tournament Golf Junior Medco Club 2005 (Desember 2005), Tournament Golf Junior flight man Jakarta Golf Club (Maret 2005).

Pegolf internasional

Pengidola pegolf internasional Vijay Singh dan Ernie Els tersebut bercita-cita menjadi pegolf profesional dengan tetap mengutamakan pendidikan formalnya.

Hal itu dibuktikan melalui prestasi belajarnya di sekolah dan aktivitasnya belajar ilmu agama.

Fadhli cukup beruntung karena kedua orang tuanya terus mendorong agar tetap berprestasi di sekolah di samping mengembangkan hobinya berolahraga golf, sepak bola dan bermain drum.

Untuk meningkatkan kemampuan golf, dia didaftarkan oleh orang tuanya ke sekolah golf Bank Commonwealth Institute of Golf (BCIOG) yang berlokasi lapangan golf Jagorawi Golf and Country Club di Gunung Putri, Cibinong Bogor.

Ketika menjalani proses pendaftaran, ternyata penanggung jawab dan konsultan sekolah golf tersebut Antony Sichlair justru tertarik saat melihat permainan Fadhli dan langsung memberikan bea siswa untuk menimba ilmu di situ.

Fadhli berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan kesempatan berharga yang hanya diberikan kepada 12 anak yang berbakat dengan tidak mengabaikan kegiatan sekolahnya.

Tentu dunia golf Indonesia banyak berharap Fadhli bisa mengharumkan nama Indonesia di ajang turnamen golf internasional. (nurudin.abdullah@ bisnis.co.id)

Oleh Nurudin Abdullah
Wartawan Bisnis Indonesia

One thought on “Belajar golf di Afrika Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s