Euro II, Pemerintah Dinilai Setengah Hati

Senin, 25 Desember 2006 15:30 WIB

EKONOMI – Bisnis

JAKARTA–MIOL Kalangan produsen otomotif mempertanyakan konsistensi kebijakan pemerintah mengenai penerapan standar emisi gas buang Euro II bagi kendaraan bermotor yang diproduksi dan beredar di Indonesia.

Rencananya, mulai awal 2007 semua kendaraan baru harus memenuhi standar tersebut. Namun, kenyataannya hingga saat ini infrastruktur untuk itu belum memadai.

Presdir PT Toyota Astra Motor (TAM) Johnny Darmawan dan Direktur Pemasaran PT Astra Honda Motor (AHM) Johannes Hermawan mengatakan hal itu di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut mereka, pemerintah terlihat setengah hati menerapkan standar tersebut. Padahal, investor dan produsen kendaraan bermotor di Indonesia mendukung masalah (standar emisi gas buang) Euro II, tapi masalahnya infrastrukturnya belum memadai. “Seharusnya apa pun resikonya, apa pun biayanya, pemerintah harus komitmen,” kata Johnny Darmawan.

Ia mengatakan sampai saat ini bensin dan solar untuk kendaraan bermotor masih memiliki kadar sulfur yang tinggi, padahal produsen sudah menjalankan komitmennya memproduksi kendaraan dengan standar Euro II, sejak 2005 untuk kendaraan tipe baru.

Produsen juga akan melanjutkan komitmennya untuk memproduksi kendaraan bermotor terbaru berstandar Euro II mulai awal 2007, karena memang standar tersebut juga bagus untuk citra Indonesia sekaligus mendukung Indonesia menjadi basis produksi otomotif baik untuk domestik maupun ekspor.

“Masalahnya sekarang justru pemerintah nampaknya setengah hati menjalankan kebijakan Euro II, karena masih banyak ditemui bensin dan solar di Indonesia yang kadar sulfurnya tinggi,” ujarnya.

Johnny mengatakan jika pemerintah serius ingin menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk domestik dan ekspor, standar Euro II harus dijalankan dengan konsisten, sehingga produsen otomotif pun bisa memproduksi kendaraannya di Indonesia untuk pasar ekspor tanpa harus melakukan spesifikasi standar emisi gas buang untuk domestik dan ekspor.

“Kita mengharapkan Indonesia menjadi basis produksi, dan kita mengharapkan Indonesia sebagai eksportir, bagaimana kita memproduksi kalau dalam satu pabrik ada yang (kendaraan bermotor) yang standar Euro I, I,5 atau II. Itu sudah mengganggu proses produksi maupun ekspor,” ujarnya.

Ia berharap semua pihak terkait di jajaran pemerintahan menjalankan komitmen yang sudah ditetapkan peraturan yang ada. “Pertamina mengatakan siap menyediakan bahan bakar berstandar Euro II, namun khawatir banyak pihak terutama instansi penegakan hukum seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mempertanyakan mengenai pemborosan,” katanya.

Terlepas dari soal belum siapnya infrastruktur, Johnny mengatakan masalah standar emisi gas buang harus sudah dijalankan di Indonesia mengingat saat ini suhu di bumi terus meningkat sekitar tiga derajat per tahun, karena pemanasan global akibat polusi yang tinggi.

Direktur Pemasaran TAM Joko Trisanyoto menambahkan, selama ini sekitar 40-50 persen bahan bakar di Indonesia masih diimpo. Ia berharap impor bahan baku solar atau bensin Indonesia memiliki kadar sulfur yang lebih rendah dengan maksimum 3500ppm, sehingga setelah dicampur bahan lain, kadar sulfurnya bisa berada di bawah 3500 ppm.

Sementara itu Direktur Pemasaran AHM Johannes Hermawan mengatakan produsen sepeda motor juga sudah menjalankan komitmennya ntuk memenuhi standar Euro II, bahkan ada produsen yang menggunakan katalisator mengingat pada awal 2007 semua sepeda motor termasuk yang dua tak harus memenuhi standar Euro II.

“Sekarang yang harus dijaga adalah konsistensi pemerintah menjalankan program tersebut. Bagaimana kesiapan infrastrukturnya,” ujar Hermawan. (Ant/OL-04)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s