Subiakto Priosoedarsono : Hidup ini seperti tumpeng

Pria tengah baya dengan penampilan cukup unik, rambut dikuncir, memperkenalkan diri sebagai Subiakto Priosoedarsono, Presiden Direktur Hotline Advertising. Kami saling berjabat tangan saat bertemu di Hotel Sultan beberapa waktu lalu. Subiakto adalah figur yang tidak bisa dipisahkan dari dunia periklanan. Pria kelahiran Probolinggo, 57 tahun itu makin dikenal publik saat sukses menangani iklan kampanye Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004. Dia mengaku sebagai orang pertama yang menciptakan keyword, kata kunci kesuksesan sebuah iklan. Iklan yang durasinya hanya beberapa menit itu bakal sukses, jika mampu membuat kata-kata yang terus diingat oleh publik.

Subiakto telah membuktikan, antara lain dalam slogan Bersama Kita Bisa dan Perubahan Semakin Dekat yang demikian populer saat kampanye SBY. Dengan menangani iklan calon presiden, dia meningkatkan diversifikasi bisnisnya dari mengurusi iklan produk menuju personal brand.

Kepiawaiannya dalam periklanan ini mulai diakui publik. Terbukti, tahun ini, dia masuk dalam jajaran finalis Entrepreneur of The Year 2006 versi Ernst & Young. Subiakto tampak kecewa tak lolos menjadi pemenangnya.

Sebenarnya, dia menaruh harapan ajang E&Y ini bisa memilih tokoh panutan, seorang wirausaha, untuk memberi inspirasi bagi masyarakat agar eksis di bidang yang digeluti.

Menurut dia, E&Y tidak sesuai konteks karena menilai dari sisi kinerja keuangan. Padahal, bangsa ini membutuhkan wirausaha. Dia mengatakan, pengusaha itu berbeda dengan wirausaha. Kalau pengusaha itu hanya meniru yang telah dilakukan oleh orang lain.

Sementara itu, seorang wirausaha memiliki kriteria tertentu, yaitu berani melakukan terobosan, inovatif dan mampu untuk mengembangkan usaha. Mental seperti ini, menurut Subiakto langka di Indonesia.

“Orang Indonesia yang jadi pengusaha baik dan sukses banyak, tapi hanya sedikit orang yang jadi wirausaha sukses,” ungkapnya.

Dia mengakui, ada orang yang memang terlahir sebagai wirausaha, sehingga dia secara alamiah telah memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu sebagai peluang. Namun, jiwa wirausaha itu di yakini bisa dibangun mulai dari sikap suka bekerja keras dan pantang menyerah.

Lelaki yang di dahinya terdapat tanda bulatan hitam ini merasa dirinya seorang wirausaha. Perjalanan kariernya dimulai sebagai art director di PT Guru Indonesia.

Di perusahaan milik investor Eropa ini, Subiakto yang saat itu baru berusia 20 tahun telah menerima gaji menggiurkan sebesar US$2.000 per bulan. Kemampuannya di bidang periklanan itu menarik perhatian menteri perindustrian masa itu, sehingga pada 1974, dia dikirim untuk belajar desain produk di JK Design Centre, Tokyo, Jepang.

Meski telah mengantongi gaji luar biasa besar untuk ukuran 1970-an, dia tidak puas sampai di situ. Saat usianya 30 tahun, Subiakto bersama beberapa temannya mulai membangun bisnis sendiri.

Ketika usianya 40 tahun, dia kembali membangun bisnis baru, yaitu Hotline Advertising yang memiliki induk usaha Hotlinetama Sarana yang juga bergerak di bisnis rumah produksi musik untuk jingle iklan.

Kemudian, T&T, rumah produksi TVC dan program on air, perusahaan positioning dan riset merek, public relation, dan lainnya. Dia mengibaratkan perjalanan kariernya itu sebagai tumpeng kehidupan.

“Saya hanya melanjutkan tumpeng kehidupan saya. Dulu waktu muda, saya suka bertanya, mengapa ulang tahun itu harus ada tumpeng. Ternyata hidup ini memang seperti tumpeng,” paparnya.

Fase lima tahun

Tangan Subiakto menggambarkan sebuah segitiga yang disebut piramida yang menggambarkan fase usia manusia. Dalam tahapan bertambahnya umur manusia itu, setiap usianya bertambah lima tahun, dia ingin berubah menjadi orang lain.

Perubahan yang telah dilakoninya itu, antara lain dari seorang karyawan menjadi pemilik perusahaan. Dia sukses mewujudkan rencananya menjadi orang lain setiap fase lima tahun.

Kiat suksesnya itu adalah punya nyali. Bagi dia, kalau hanya knowledge, semua orang bisa belajar. Namun, kalau tidak ada keberanian, tidak akan jadi apa-apa. Setelah 17 tahun memiliki bisnis sendiri, Subiakto memberi lapangan kerja kepada lebih dari 150 karyawan.

Pria yang semula bercita-cita menjadi insinyur elektro ini masih berambisi untuk melakukan rebranding Indonesia. Dia ingin mengubah citra Indonesia dari negara yang dikenal korup menjadi Indonesia baru dengan citra yang lebih baik. Melalui pencitraan ini, dia optimistis Indonesia bakal menarik dari sisi pemasaran yang bisa dilakukan melalui produk atau merek.

Tak hanya piawai menuangkan kreasinya di bidang periklanan, pria yang hobi bermain golf untuk tujuan membina relasi sekaligus menjaga eksistensi sebagai anggota komunitas pebisnis ini juga memahami kompetisi di bisnis ini.

Persaingan di bisnis periklanan ini dirasakan makin ketat, terutama sejak perusahaan periklanan asing mulai masuk ke Indonesia. Kondisi itu cukup mengkhawatirkan karena kekuatan korporasi global itu mampu untuk melakukan praktik dumping.

Jika dumping itu dilakukan dan perusahaan asing tersebut sanggup menanggung rugi hingga 10 tahun, pebisnis lokal bisa habis. Dampak persaingan itu sudah dirasakan saat ini. Margin periklanan sudah 0%.

Jika mengelola bisnis periklanan hanya sebagai agen akan bangkrut. Maka itu, Subiakto mengelolanya sebagai institusi bisnis. Kalau ada klien yang menggelontorkan dana puluhan miliar, tapi minta perusahaan tidak untung, bisa diterimanya.

Dia akan berusaha mendapatkan keuntungan dengan cara lain, yaitu memutar uang itu untuk mendanai bisnis lainnya. (suli.murwani@bisnis.co.id)

Suli H. Murwani
Bisnis Indonesia

2 thoughts on “Subiakto Priosoedarsono : Hidup ini seperti tumpeng

  1. AGAM

    wah keren ,gue pernah dua kali jadi model iklan pak Subiakto Priosoedarsono [ iklan kartu matrix dan extra zoss persi kampanye ].pengen banget gue bisa kerja sama kembali ama beliau. AGAM 0815 19630789

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s