Investasi 2007 : Mengapa tak coba repo?

Menjelang awal 2007, spekulasi bermunculan mengenai dunia investasi Tanah Air. Namun, optimisme masih terus merebak. Terutama hasil pemantauan Departemen Keuangan (Depkeu) tentang situasi makro ekonomi yang menunjukkan bahwa November dan Desember tahun ini terlihat gejala perbaikan. Keyakinan Menteri Keuangan atas berbagai perbaikan fundamental ekonomi seperti pertumbuhan triwulan IV 2006 (year on year) yang diperkirakan akan lebih baik dibanding triwulan III, dan akan terus berlanjut tahun depan, menggiring optimisme kalangan pasar modal. Pengamat pasar modal Edwin Sinaga, misalnya, mengatakan kondisi investasi tahun depan akan bersaing ketat. “Jika tahun-tahun sebelumnya kita belum bisa bangkit dari keterpurukan, maka pada 2007 dengan optimisme yang ada harusnya pemulihan ekonomi bisa tercapai,” ujar Edwin.

Pilihan investasi para investor pun makin bervariasi. Pasalnya, saham reksa dana yang saat ini tengah digemari, menurut Edwin, masih berisiko tinggi selama belum ada konfirmasi kondisi mikro sudah aman.

Karena itu, Edwin mengatakan instrumen perbankan seperti halnya deposito berjangka masih akan lebih aman, meskipun yield nya rendah. Yield yang rendah pun tentu akan memiliki risiko lebih rendah dibandingkan investasi obligasi dan saham.

Repo

Mengapa tidak mencoba repo? Demikian Edwin menawarkan instrumen selain perbankan. Instrumen repo (repurchase agreement) atau pinjaman dengan jaminan portofolio bisa menjadi alternatif instrumen investasi yang aman. “Bentuknya bisa repo saham atau repo obligasi di pasar uang,” tambah dia.

Repo, yang juga disebut RPs atau buy back, memang sering digunakan sebagai instrumen investasi pasar uang. Pasar repo adalah jenis transaksi surat berharga yang disertai perjanjian untuk menjual atau membeli kembali surat berharga, dengan jangka waktu dan harga yang telah ditentukan.

Tip memilih instrumen investasi :

# Jangan tergiur pada data historis yang ditawarkan tentang kenaikan harga saham ataupun obligasi

# Jangan memilih investasi hanya karena ikut-ikutan saja. Sebaiknya kenali diri Anda sendiri. Jika Anda termasuk orang yang agresif, maka instrumen yang tepat adalah reksa dana saham, jika Anda tipe spekulatif, maka sebaiknya Anda memilih jenis instrumen saham, atau jika Anda termasuk tipe konservatif, maka pilihlah instrumen investasi berupa pasar uang yang cenderung lebih aman

# Amati tren pasar uang ke depan. Ekspektasi dan tren pasar uang harus seimbang

# Pilihlah penerbit instrumen investasi yang besar (jika Anda memilih reksa dana sebagai instrumen pilihan.

Transaksi repo berdasarkan surat perjanjian repo atau master repurchase agreement (MRA) menganut sistem buy and sell back, sehingga hak kepemilikan bisa berpindah dari penjual dan pembeli, sehingga dapat dilakukan net off.

Dari sisi investor, repo merupakan salah satu bentuk pinjaman dan pemberian pembiayaan yang relatif aman karena sistem buy and sell back tersebut.

Untuk bank dan sekuritas, repo dapat dipergunakan untuk mengatasi pendanaan yang bersifat jangka pendek.

Sementara itu, bagi BI, repo dapat menjadi alat untuk mengendalikan perkembangan moneter. Pemerintah dapat memperoleh pembiayaan utang yang lebih rendah dan lebih fleksibel untuk mengeluarkan obligasi di pasar primer.

Bila pasar repo berkembang, diharapkan likuiditas pasar SUN bisa meningkat, dan statusnya sebagai instrumen investasi menjadi lebih kredibel.

Untuk saham seperti halnya reksa dana, menurut Edwin hingga saat ini masih belum banyak pilihan. “Apalagi menurut saya saat ini saham merupakan instrumen investasi yang masih labil, dimana underline portfolio nya mulai goyang,” jelas Edwin.

Untuk Anda yang memilih instrumen obligasi, sebaiknya memilih obligasi pemerintah dan juga korporasi besar, hingga tidak akan terpengaruh ketika pasar sedang mengalami goncangan “Paling tidak kupon masih bisa terbayar,” jelas Edwin.

Sektor investasi yang saat ini masih menguntungkan, menurut Edwin, masih di sektor manufaktur, properti, telekomunikasi, dan consumer goods. Sektor-sektor itu masih leading dibandingkan sektor lainnya.

Berbeda dengan Edwin, analis PT Sinarmas Sekuritas Alfiansyah, menyebutkan reksa dana saham dan campuran masih merupakan primadona instrumen investasi yang diminati tahun depan.

Pasalnya, dengan menurunnya tingkat suku bunga saat ini, pasar saham lebih menarik bagi investor dibandingkan deposito perbankan. “Karena saham memberikan return yang lebih besar daripada investasi perbankan,” ujar Alfiansyah.

Wajar jika Alfiansyah meramalkan reksa dana saham akan mengalami pertumbuhan. Selain memberikan return yang lebih besar, dia menyebutkan reksa dana saham masih akan diminati karena memiliki proteksi dalam beberapa produknya. “Pada dasarnya semua investasi berisiko, apalagi return bersifat fluktuasi. Namun, reksa dana merupakan salah satu investasi yang cukup aman dan menguntungkan bagi investor di 2007,” tambah dia.

Hanya saja, Alfiansyah mewanti-wanti agar dalam memilih produk reksa dana saham, investor harus jeli, dan memperhatikan switching antara capital gain dan pasar saham. Selain itu, sebaiknya investor memilih reksa dana terproteksi, sehingga sisi keamanannya masih dijamin.

Untuk repo, Alfiansyah menegaskan masih belum banyak diminati. Karena selain termasuk instrumen investasi baru, saat ini investor masih menunggu kejelasan otoritas dari instrumen investasi tersebut meskipun keberadaannya sudah mulai dilirik beberapa investor. (redaksi@bisnis.co.id)

Mia Chitra Dinisari
Kontributor Bisnis Indonesia

2 thoughts on “Investasi 2007 : Mengapa tak coba repo?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s