Bunga murah, madu atau racun?

Ahaa…Cepe mau ganti mobil baru rupanya. Dia tampak ribet memilih bank atau leasing untuk membiayai pembelian mobil barunya. Dia makin bingung ketika banyak bank dan leasing menawarkan suku bunga lebih murah. Tak salah jika dia langsung menjatuhkan pilihannya pada sebuah perusahaan leasing yang sekilas bunganya lebih rendah, pun dengan prosedur yang cepat. Lain lagi dengan Abe. Dia tidak lagi memikirkan bank atau leasing mana yang dipilih setiap dia membeli mobil. Namun, dengan jumlah pinjaman yang sama, down payment (DP) yang sama, jangka waktu yang sama, mana di antara lembaga keuangan itu yang menawarkan cicilan paling rendah, itulah yang akan dia pilih. Praktis memang cara berpikir Abe. Namun, itulah resep yang harus kita pegang. Jangan terbelenggu oleh suku bunga rendah dan DP murah jika tidak akan menambah derita panjang nantinya.

Strategi Cepe tentu tidak salah. Karena keingintahuannya mana yang lebih menguntungkan membiayai pembelian mobil lewat bank atau leasing. Tentu, pemikiran itu disertai hitungan-hitungan yang tidak bisa dirupiahkan begitu saja. Karena saat ini, mobil adalah kebutuhan yang sangat mendesak dalam memperlancar pekerjaannya. Jadi, kebutuhan mobil bagi Cepe termasuk barang modal. Dengan mobil itu, dia akan menghasilkan sejumlah uang tertentu yang dipakai untuk mencicil setiap bulannya. Perbedaan Rp 200.000 – Rp 400.000, pun tak masalah bagi Cepe.

Bank dan leasing, adalah dua lembaga keuangan yang semakin gencar menyalurkan kredit konsumtif terutama di sektor otomotif. Dua lembaga itu kini bersaing dengan insentif yang menggiurkan sekaligus meracuni. Karena dengan DP yang sangat ringan, seseorang sudah bisa membawa pulang sebuah mobil. Tapi ingat, DP ringan akan membuat Anda mencicil karena tersiksa oleh cicilan yang mencekik.

prosedur yang cepat. Lain lagi dengan Abe. Dia tidak lagi memikirkan bank atau leasing mana yang dipilih setiap dia membeli mobil. Namun, dengan jumlah pinjaman yang sama, down payment (DP) yang sama, jangka waktu yang sama, mana di antara lembaga keuangan itu yang menawarkan cicilan paling rendah, itulah yang akan dia pilih. Praktis memang cara berpikir Abe. Namun, itulah resep yang harus kita pegang. Jangan terbelenggu oleh suku bunga rendah dan DP murah jika tidak akan menambah derita panjang nantinya. Strategi Cepe tentu tidak salah. Karena keingintahuannya mana yang lebih menguntungkan membiayai pembelian mobil lewat bank atau leasing. Tentu, pemikiran itu disertai hitungan-hitungan yang tidak bisa dirupiahkan begitu saja. Karena saat ini, mobil adalah kebutuhan yang sangat mendesak dalam memperlancar pekerjaannya. Jadi, kebutuhan mobil bagi Cepe termasuk barang modal. Dengan mobil itu, dia akan menghasilkan sejumlah uang tertentu yang dipakai untuk mencicil setiap bulannya. Perbedaan Rp 200.000 – Rp 400.000, pun tak masalah bagi Cepe.

Bank dan leasing, adalah dua lembaga keuangan yang semakin gencar menyalurkan kredit konsumtif terutama di sektor otomotif. Dua lembaga itu kini bersaing dengan insentif yang menggiurkan sekaligus meracuni. Karena dengan DP yang sangat ringan, seseorang sudah bisa membawa pulang sebuah mobil. Tapi ingat, DP ringan akan membuat Anda mencicil karena tersiksa oleh cicilan yang mencekik.

Alternatif biaya bunga murah dan proses yang cepat merupakan keinginan semua konsumen. Namun, dua hal itu tidak bisa diraih bersamaan, karena masing-masing merupakan keunggulan dari bank dan leasing.

Simak :

# Jangan terkecoh oleh penawaran tingkat suku bunga yang rendah.

# Hitung dulu masing-masing suku bunga yang ditawarkan serta berbagai macam komponen biaya lain.

# Bandingkan biaya asuransi yang ditawarkan oleh lembaga keuangan bersangkutan dan asuransi di luar. Jika lebih murah di luar, mintalah untuk berasuransi di luar. Jika tidak, bernegosiasilah untuk mendapatkan diskon.

# Jangan terkecoh oleh DP ringan yang biasanya ditawarkan perusahaan leasing.

Bank, tentu akan memberikan suku bunga yang lebih rendah, karena lembaga itu langsung menyalurkan dananya dari masyarakat. Namun, prosedur pemberian kerdit yang harus mengacu kepada 5C (collateral, caracter, capacity, capital, collectibility) menuntut bank tidak sembarangan melakukan uji kelayakan dari calon debitornya.

Hal tersebut, tentu memakan proses panjang yang berarti waktunya lama. Bahkan bisa sampai dua minggu, karena bank juga harus melakukan checking ke Bank Indonesia (BI), apakah si calon debitor tercatat sebagai debitor yang masuk klasifikasi kredit tertentu.

Sementara itu, perusahaan leasing, tentu akan menetapkan bunga yang lebih tinggi daripada perbankan, karena sumber dana leasing itu sendiri berasal dari bank. Wajar kalau leasing mengambil spread tertentu sebagai margin keuntungannya. Tapi, prosesnya memang cepat sich, karena tidak perlu checking ke BI, cukup slip gaji, keterangan bekerja di mana, KTP dan KK. Jika besarnya angsuran maksimal sepertiga dari gaji Anda. beres dech, mobil langsung bisa dibawa pulang.

Harus jeli

Jangan terkecoh oleh penawaran tingkat suku bunga rendah. Perusahaan leasing, bahkan ada beberapa bank juga, yang menawarkan suku bunga rendah, misalnya 5,5% atau 6%. Karena pada tingkat suku bunga itu adalah flat. Artinya, bunga dihitung dari total utang pokok saat awal.

Bagi mereka yang punya rencana untuk segera melunasi utangnya, sistem ini jelas tidak menguntungkan. Karena dia harus membayar besarnya sisa utang pokok dan bunga selama kurun waktu yang ditetapkan. Bagaimana jika cicilannya baru berjalan satu tahun sedangkan sisa pelunasan masih dua tahun? Itulah risikonya, dia pun harus tetap membayar bunga selama dua tahun tersebut.

Hal itu, akan berbeda jika Anda memakai sistem suku bunga efektif. Untuk kasus di atas, Anda hanya membayar sisa utang pokoknya saja. Namun, harus diingat, bahwa pembayaran bunga untuk kredit efektif adalah besar di awalnya dan akan mengecil di belakangnya.

Sebagian besar bank (dan ada juga perusahaan leasing) menggunakan perhitungan bunga efektif, artinya, bunga dihitung berdasarkan sisa utang pokok. Besarnya bunga efektif ini biasanya 11%-14%.

Sekilas, memang perhitungan bunga flat lebih menarik karena kecil. Namun, Anda jangan salah, karena Anda harus mengkonversi bunga flat itu ke dalam bunga efektif. “Secara kasarnya, suku bunga efektif bisa diperoleh dengan mengalikan dua dari besarnya suku bunga flat,” kata Dirga Alban, pemerhati masalah kredit konsumtif.

Jadi, dalam kondisi persyaratan yang seluruhnya sama, berapapun suku bunganya, cicilannya tetap harus lebih rendah. (anna.marwiyati@bisnis.co.id)

Anna Marwiyati
Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s