Nyari Bank Sehat ? Nih, panduannya !

Masih banyak masyarakat yang bingung menentukan bank yang aman buat investasi. Selain itu, pengetahuan kita juga masih banyak diracuni dengan stereotip tertentu yang seolah-olah bank pilihan kita saat ini sudah jauh dari gejolak dan masalah.

Kita tentu masih sulit melupakan betapa mirisnya melihat Bank Global terpaksa harus dipapah ke special surveillance unit (SSU), alias UGD-nya bank-bank sekarat. Sejak 14 Desember 2004, bank ini benar-benar terkubur dalam sejarah.

Kasus tersebut seperti menebar virus menakutkan kepada masyarakat untuk menitipkan dananya di bank-bank. Mana bank yang sehat dan tidak sehat tidak jelas.

Untungnya, kini mulai muncul lembaga-lembaga pemeringkatan kredibel, yang terdiri dari pakar keuangan andal yang mampu mengeluarkan penilaian (rating) kinerja bank-bank umum yang bisa dijadikan rujukan masyarakat awam untuk memilih bank.

“Dilihat dari sisi pengguna nasabah, fenomena pembuatan peringkat bank itu jelas sebagai langkah positif,” ujar Jonni Manurung, staf ahli Finansial Bisnis Informasi (FBI), lembaga jasa yang peduli tentang riset keuangan.

Pertama, masyarakat akan semakin mengerti bagaimana kinerja bank yang selama ini diandalkan. Apakah bank itu sehat? Baguskah kinerjanya? Bagaimana profit dan posisinya di antara bank-bank lain.

Informasi semacam ini jelas akan mendidik nasabah untuk tidak gegabah memilih bank. Nasabah tidak akan memilih bank hanya berdasarkan gedung yang megah atau karyawan yang cantik-cantik. Intinya, bank yang sehat kinerjanya pasti akan laris manis.

Apa indikator melihat bagus tidaknya suatu perbankan? Jelas bukan dari maraknya iklan perbankan di layar kaca, tawaran bunga yang menggiurkan, fasilitas phone banking, kerja sama dengan beberapa bank lain, dan jaringan ATM terluas.

Kualitas pelayanan dan profesionalitas sebuah bank juga merupakan indikator subyektif yang sulit diukur, karena memiliki banyak standar. Jika hal-hal tadi yang jadi patokan, kebenaran yang kita raih masih sebatas kebenaran semu.

Oleh karena itu, untuk menilai dan memperbandingkan bank-bank di sekitar kita, kita hanya bisa menggunakan indikator-indikator perbankan yang memiliki satu standar.

Menurut Thombos Sitanggang, Corporate Research Manager FBI, perbankan bisa dinilai dari dua sisi yakni, fundamental dan teknikal.

Jangka panjang

Sisi fundamental merupakan kinerja keuangan perusahaan, yang terdiri atas total aset, rasio kecukupan modal/capital adequacy ratio (CAR), NPL-Gross (non performing loan)/kredit bermasalah), return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) untuk laba, net interest margin (NIM), loan to deposit ratio (LDR), dan produktivitas pegawai (employee productivity/EP).

Sisi teknikal merupakan penilaian atas kinerja saham bank-bank yang telah melantai (listed) di BEJ. Penilaian ini berdasarkan perhitungan return saham dan volatilitas (perubahan) saham terhadap pasar.

Thombos menjelaskan bahwa untuk menilai sisi teknikal ini diperlukan metode snail trail (jejak bekicot). Gunanya untuk mengukur kinerja portofolio perbankan untuk jangka panjang, yakni lima tahun.

Kita mulai dari aset. Besarnya aset yang dimiliki sebuah bank tidak berarti apa-apa jika seluruhnya merupakan aset berisiko. Oleh karena itu, untuk mengukur kesehatan suatu bank, indikator total aset harus dipadukan dengan indikator lainnya.

Lalu, CAR atau daya tahan suatu bank. Makin besar CAR suatu bank, berarti kesiapannya menghadapi kredit macet besar pula. Bank Indonesia menetapkan standar minimum CAR untuk perbankan sebesar 8%.

Artinya, untuk setiap ekspansi kredit Rp1.000, bank harus menyediakan modal sendiri minimal Rp80. Tanpa modal yang kuat, mustahil bank bisa melanjutkan ekspansi kredit.

Selanjutnya, NPL atau kredit tidak lancar. Yang termasuk kategori NPL jika kredit yang diberikan berada dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet. Bank yang memiliki tingkat NPL lebih rendah dari tahun sebelumnya, layak memperoleh nilai maksimal.

Namun, sebuah bank yang memiliki NPL sangat kecil tidak serta-merta hampir seluruh kredit bank tersebut adalah kredit lancar, dan menunjukkan betapa sehatnya bank tersebut. NPL yang sangat kecil dapat saja dicapai bank yang hanya sedikit menyalurkan kreditnya.

Berikutnya, LDR atau perbandingan kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan, baik berupa tabungan dan deposito. Bank yang memiliki LDR sangat kecil berarti bank tersebut tidak menjalankan fungsi intermediasi dengan baik.

Bank-bank seperti ini umumnya hanya menampung dana pihak ketiga, kemudian melakukan placing di pasar uang untuk mencari profit tanpa menyalurkan kredit.

Lalu ada ROA dan ROE, atau dalam bahasa yang sangat sederhana, kata Thombos, adalah laba. Tahun lalu merupakan masa sulit perbankan Indonesia, terutama dari laba yang sempat anjlok. Bila ada bank yang masih membukukan laba, layak diacungi jempol .

Dengan beberapa panduan itu, Anda bisa mengukur sendiri apakah bank yang diminatinya atau yang tengah mereka huni saat ini cukup sehat atau tidak. Jangan-jangan, masih ada yang termakan bujuk rayu iklan perbankan. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id/berliana.elisabeth@bisnis.co.id)

Yusuf Waluyo Jati & Berliana Elisabeth
Bisnis Indonesia

5 thoughts on “Nyari Bank Sehat ? Nih, panduannya !

  1. sofyan

    saya mengalami sedikit masalah dengan laporan keuangan jadi saya kurang ngerti tentang ini.yang ini saya tanyakan bagaimana dengan promosi suatu bank pada media? dendan hubunganya bank sehat?

    Reply
  2. bayu

    saya mau tau,resiko sistem pembayaran tuh apa aja ?hambatan intermediasi keuangan jg apa aja dan perbesaan antara sistem kliring dan sistem RTGS?

    Reply
  3. ariani

    saya mau tau,contoh bank atau institusi keuangan yang memenuhi syarat bank sehat?dan bukti sesuai dengan tuntutan regulasi sdm perbankan,khususnya tanggap terhadap situasi kerisis yang menimbulkan risk managemant! terimakasih

    Reply
  4. hanna

    susah banget sih nyari contoh bank sehat dan tidak sehat.
    buat tugas jurnal di kampuuss nih. ada sumber yang bisa dipercaya gak kira kira?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s