Menuju Persimpangan Era Digital

Kehadiran teknologi 3G (baca triji) memiliki arti tersendiri bagi konsumen dan juga bagi kalangan industri telekomunikasi. Teknologi seluler yang sudah sangat matang dengan penggunaan yang sangat luas sekarang memasuki sebuah era baru mendorong digitalisasi kehidupan kita untuk bekerja, bermain, dan berhibur diri.

Era baru sekarang ini ditandari dengan kehadiran teknologi 3G yang sering disebut sebagai UMTS (Universal Mobile Telecommunications Service) menghadirkan generasi baru telekomunikasi. Generasi baru ini memiliki fitur broadband, teks yang ditransmisi berbasis paket, suara yang didigitalisasi, serta multimedia dengan kecepatan rata-rata sampai dengan 2 Mbps.

Generasi ketiga seluler yang berbasis standar komunikasi GSM (Global System for Mobile) memungkinkan komputer dan ponsel terkonvergensi dan secara konstan terkait jaringan internet di mana pun dan kapan pun. Teknologi 3G adalah sebuah era baru yang mengeksploitasi digitalisasi secara maksimal.

Teknologi 3G menggunakan apa yang disebut sebagai packet- switched yang terkoneksi menggunakan protokol internet (IP), di mana sebuah koneksi semu (virtual) selalu tersedia di berbagai ujung di dalam sistem jaringan 3G.

Gabungan teknologi IP dan besarnya bandwith yang tersedia dalam UMTS memungkinkan diperkenalkan layanan komunikasi baru seperti panggilan video, konferensi percakapan video, maupun teve IP. Teknologi 3G juga memungkinkan untuk menggelar apa yang disebut sebagai Virtual Home Environment, yaitu saat ponsel dalam posisi roaming mampu memiliki layanan yang sama seperti ketika berada di rumah, kantor, atau di jalanan terkoneksi secara terrestrial maupun satelit.

Era baru

Gencarnya kampanye teknologi 3G di berbagai media cetak dan elektronik memang menyisakan pertanyaan bagi kita, seberapa siap dan bermanfaat sebenarnya kehadiran teknologi generasi terbaru ini. Kehadiran teknologi 3G sudah digelar di berbagai negara serta ponsel yang pertumbuhan mencapai rata-rata 13 persen (lihat grafik) mengalahkan telekomunikasi telepon konvensional, menunjukkan kehadiran era baru digitalisasi memanfaatkan teknologi jaringan yang semakin canggih, baik kabel maupun nirkabel.

Yang menarik sebenarnya, walaupun kehadiran teknologi 3G di lebih dari 100 negara dengan pelanggan yang sebentar lagi mencapai 1 miliar (lihat grafik atas), sampai sekarang memang belum ada kisah sukses penggunaannya di luar Jepang dan Korea Selatan.

Berbagai pengamat industri 3G di Indonesia yang ditemui Kompas melihat kehadiran teknologi baru ini sebenarnya tidak menjadi sumber pendapatan baru bagi operator seluler. Di sisi lain, Usun Pringgodigdo, Manajer Bisnis Multimedia Nokia Indonesia, mengatakan, kehadiran 3G di Indonesia secara cermat berusaha untuk mempelajari kelemahan dan kesalahan yang terjadi di negara lain.

”Itu sebabnya, 3G tidak diperkenalkan sebagai fitur teknologi yang hanya bisa melakukan panggilan video, tetapi sebagai sebuah koneksi data kecepatan tinggi,” kata Pringgodigdo. Dan memang, 3G bukan semata hanya video call karena konvergensi dengan jaringan internet serta penggunaan teknologi IP banyak hal baru yang bisa dilakukan dengan teknologi 3G.

Jalan hidup

Di sisi lain, eforia 3G yang digembar-gemborkan dengan peningkatan pelanggan 3G sampai 1 juta sampai akhir bulan ini oleh salah satu operator setelah dua bulan diluncurkan menjadi menyesatkan. Tidak ada operator seluler di dunia yang bisa mencapai jumlah ini dalam waktu singkat.

Alasannya sederhana. Penjualan ponsel berkemampuan 3G di Indonesia untuk tahun ini tidak mencapai jumlah yang disebutkan operator tersebut. Dari 10,7 juta ponsel yang diperkirakan dijual di Indonesia, ponsel berkemampuan 3G tercatat 5 persen sampai 6 persen saja.

Persaingan antaroperator memang telah mengarah pada rekayasa angka jumlah pelanggan berlebihan dan mengelabui pemahaman kita tentang perkembangan teknologi telekomunikasi. Ini antara lain menyebabkan para fund manager berpendapat, kehadiran teknologi 3G bukan menjadi kantong penerimaan pendapatan yang baru mengalahkan teknologi GSM.

Terlepas dari masalah ini, dari sisi konsumen Indonesia, kehadiran teknologi 3G akan membawa kita pada sebuah persimpangan untuk meningkatkan produktivitas serta berbagai peluang baru. Para orangtua akan dengan mudah untuk mengetahui kondisi anak-anaknya di sekolah, bos di kantor bisa melihat dan menanyakan langsung apa yang dikerjakan bawahannya, atau seorang wartawan bisa melakukan wawancara dengan narasumbernya tanpa harus berada di tempat yang sama.

Banyak hal yang bisa dilakukan dengan teknologi 3G ini, mulai dari keperluan individu sampai peningkatan efisiensi kerja perusahaan. Teknologi 3G memberikan peluang yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya.

Dengan 3G, ponsel bukan lagi menjadi perangkat telepon untuk berbicara. Di Jepang dan Korea Selatan, ponsel 3G berubah menjadi perangkat untuk berbagi rasa dan citra, atau untuk berbelanja. Atau singkatnya, 3G akan menjadi apa yang disebut sebagai ”the remote-control for life”, perangkat yang akan mengarahkan jalan hidup kita. (Sumber: KOMPAS.COM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s