Ingin jadi PNS kaya, kerja di BI!

Selasa, 19/12/2006 11:42 WIB
oleh : Hery Trianto

Kamis malam di penghujung November, Budi Mulya, Direktur Direktorat Pengkajian Strategis dan Humas Bank Indonesia menjawab telepon Bisnis dengan riang. Sekilas, diapun bercerita tentang hasil pertemuan bank sentral dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat membahas anggaran belanja BI. “Pembicaraan berlangsung hangat, dan persetujuan juga dicapai,” katanya.

Seolah meneguhkan keriangan Budi, Senin sore (4 Desember), Dewan Perwakilan Rakyat secara aklamasi menyetujui anggaran operasional Bank Indonesia 2007. Anggaran tersebut meliputi anggaran untuk bidang sumber daya manusia, pengelolaan logistik dan pelaksanaan pendukung lainnya sebesar Rp4,19 triliun.

Anggaran bidang sumber daya manusia dipatok sebesar Rp2,84 triliun, atau meningkat Rp18 miliar dari tahun sebelumnya. Untuk bidang pengelolaan logistik, tersedia dana sebesar Rp789 miliar dan anggaran pendukung lainnya sebesar Rp568 miliar.

Kendati anggaran sumber daya manusia 2007 hanya meningkat Rp18 miliar, secara faktual gaji Dewan Gubernur Bank Indonesia naik sebesar 3%-4%. Para pegawai juga tak perlu berkecil hati, kenaikan 7% untuk golongan V-VIII, dan 10% untuk golongan I-IV pasti akan diperoleh tahun depan.

Biaya SDM Rp2,84 triliun

Dengan hanya sekitar 5.999 karyawan (data Laporan Tahunan 2005 BI) dan dan biaya SDM Rp2,84 triliun maka pegawai BI barangkali adalah yang paling sejahtera diantara pegawai pemerintahan lain ataupun pegawai bank yang diawasinya. Bila dipukul rata, maka biaya rata-rata pegawai pertahun adalah Rp473 juta perorang.

Di Indonesia, dengan pendapatan perkapita penduduk hanya US$1.500 pertahun, maka bekerja di Bank Indonesia mungkin menjadi impian jutaan calon tenaga kerja. Biaya yang dikeluarkan bank sentral bagi pegawainya, juga jauh di atas biaya yang dikeluarkan oleh bank-bank yang diawasinya.

Sayang, dalam sebuah riset tempat kerja paling favorit yang dilakukan sebuah majalah ekonomi, Bank Indonesia luput menjadi pilihan. Para pencari kerja justru memfavoritkan perusahaan seperti PT Unilever Indonesia Tbk, PT Astra Internasional Tbk ataupun PT Bank Mandiri Tbk.

Padahal, Bank Mandiri,-dalam riset ini menempati favorit kelima-pada 2005 menyediakan biaya SDM Rp3,18 triliun untuk 21.192 pegawai. Itu artinya biaya rata-rata perorang Rp150 juta, terbesar dibandingkan dengan bank komersial manapun di Indonesia. Tetapi, bila dibandingkan dengan biaya pegawai Bank Indonesia angka tersebut hanya kurang dari sepertiganya.

Bank swasta malah lebih murah dalam menyediakan biaya bagi para pegawai. PT Bank Niaga Tbk, misalnya, memiliki pegawai hampir sama dengan Bank Indonesia (sekitar 5.000 orang) rata-rata biaya pegawai hanya Rp80,3 juta atau hanya mengeluarkan total biaya Rp401 miliar dalam satu tahun.

Membandingkan gaji pegawai bank sentral dengan departemen di pemerintah? Tentu bukan hal yang setara. Di Departemen Keuangan sekalipun, tempat segala macam biaya operasional pemerintahan bermuara, sering terdengar bisik-bisik betapa senjangnya kehidupan para pegawai di Lapangan Banteng (Depkeu) dan Thamrin-sebutan lain untuk kantor BI.

Anggaran pengelolaan sumber daya manusia

Secara kasat mata, perbedaan juga tecermin dari kondisi gedung BI dan Depkeu. Tidak saja dari luar, tapi juga saat telah berada di dalam. “Bila di Thamrin keluar lift langsung disambut bau wangi, di Lapangan Banteng, aroma karbol toilet di samping lift yang Anda dapatkan pertama,” kata seorang pejabat Depkeu setengah berkelakar.

Berkurang

Benarkah biaya SDM yang besar berarti gaji besar bagi pegawai BI? Ternyata tidak selalu begitu. Seorang pegawai baru lulusan sarjana mengaku membawa pulang sekitar Rp6 juta ke rumah. “Itu memang di atas rata-rata gaji pegawai baru pada umumnya, namun untuk selanjutnya tidak jauh beda dengan yang lain,” kata Budi Mulya, kemarin.

Menurut dia, biaya SDM untuk 2007 malah bisa dikatakan berkurang karena sejumlah program pengembangan dan pelatihan tidak bisa dijalankan tahun ini. “Untuk pengembangan SDM memang sangat kami perhatikan, dan tentu hal tersebut memerlukan biaya yang tidak kecil.”

Hanya saja, bila melihat rincian pos biaya sumber daya manusia BI, biaya pengembangan dan pelatihan justru tidak masuk di dalamnya. Total biaya Rp2,84 triliun murni untuk gaji, pajak, uang lembur, pensiun dan fasilitas kesehatan.

Hal tersebut berbeda dengan rincian pos biaya SDM yang dirilis oleh sejumlah bank. Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA, misalnya, menyediakan anggaran pendidikan dan latihan masing-masing Rp127 miliar, Rp103 miliar, Rp114 miliar dan Rp47 miliar.

Taruhlah untuk komponen gaji, manfaat dan insentif, tersedia dana Rp1,54 triliun. Itu artinya biaya setiap pegawai mencapai Rp256,7 juta. Padahal di Bank Mandiri, dana dengan jumlah yang sama dialokasikan untuk gaji, upah, pensiun, dan pajak. Khusus untuk pajak, BI menyediakan dana Rp301 miliar, lebih dari cukup untuk mengganti seluruh biaya SDM Bank NISP (3.616 karyawan).

Anggaran SDM yang besar tentu saja berimbas pada gaji yang memadai bagi Dewan Gubernur Bank Indonesia. Untuk tahun ini, gaji yang diterima Gubernur BI dalam satu tahun Rp1,88 miliar sementara gaji deputi senior gubernur sebesar Rp1,57 miliar dan deputi gubernur Rp1,42 miliar.

Perincian gaji Gubernur BI selama satu tahun, berupa gaji pokok Rp29,88 juta per bulan, tunjangan konjungtur Rp54 juta per bulan, tunjangan lain-lain Rp11 juta, tunjangan prestasi total setahun Rp546 juta, dan tunjangan hari raya Rp95 juta.

Adapun Deputi Senior Gubernur BI mendapatkan gaji pokok Rp24,92 juta per bulan, tunjangan konjungtur Rp45 juta per bulan, tunjangan lain-lain Rp10 juta per bulan, tunjangan prestasi setahun Rp450 juta, dan tunjangan hari raya Rp80 juta.

Deputi gubernur menerima gaji pokok Rp22,038 juta per bulan, tunjangan konjungtur Rp41 juta per bulan, tunjangan lain-lain Rp8 juta per bulan, tunjangan prestasi dalam setahun Rp419 juta, dan tunjangan hari raya Rp72 juta.

Nilai tersebut turun dari usulan bank sentral sebelumnya di mana gaji dan tunjangan untuk Gubernur BI sebesar Rp2,69 miliar, untuk Deputi Senior Gubernur BI Rp2,25 miliar, dan Deputi Gubernur Rp2,04 miliar. Perlu juga diingat, BI sempat mendapat kritikan hebat dari publik saat anggaran gaji dewan gubernur diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat.

Budi menolak jika BI disebut menggaji karyawannya terlalu tinggi. Bank sentral, kata dia, memiliki data komparasi yang sangat lengkap sebelum menentukan besaran remunerasi bagi para pegawainya.

Namun, dia mengakui bila gaji pegawai BI lebih tinggi dari departemen-departemen di pemerintahan. “Itu memang beda,” katanya.

Kemungkinan besar, gaji pegawai baru yang di atas rata-rata, menjadi sebab mengapa setiap penerimaan pegawai baru, Bank Indonesia selalu kebanjiran peminat. Sebagaimana dikatakan Budi, dalam program penerimaan terakhir, 36.000 pendaftar datang untuk memperebutkan 100 kursi. “Itu membuat kami harus menambahnya menjadi 200 kursi.”

Bisa memberikan kompensasi yang memadai bagai pegawai tentu merupakan figur ideal pemberi kerja. Namun, untuk sebuah mesin birokrasi seperti BI dalam situasi makin defisitnya keuangan negara, maka hal itu bukanlah hal yang mudah. Uniknya, bank sentral kita bisa melakukannya.

2 thoughts on “Ingin jadi PNS kaya, kerja di BI!

  1. dolog

    byuh…. aku mau dong jadi pegawai BI…. aku juga sama2 pegawai negara…. kok ga ada separuh dari gaji satpam yang katanya 4 jutaan….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s