GusDur : Orang Islam, Bukan Golongan Islam 9 May 2007
Posted by feryindrawan in Budaya, Health, LifeStyle.16 comments
Benturan antar ”kebenaran” terjadi saat orang-orang berani mengambil-alih jabatan Tuhan, fungsi Tuhan, dan kerjaan Tuhan. Padahal, dalam ajaran tauhid, urusan kebenaran adalah hak prerogratif Tuhan. Demikian disampaikan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur kepada Mohamad Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) di Radio 68H, Jakarta.
Keberagamaan umat Islam saat ini sering dikaitkan dengan radikalisme dan kekerasan. Apa yang salah menurut Gus Dur?
Saya rasa persoalannya adalah ketidakmengertian. Mereka yang melakukan kekerasan itu tidak mengerti bahwa Islam tidaklah terkait dengan kekerasan. Itu yang penting. Ajaran Islam yang sebenar-benarnya—saya tidak memihak paham mana pun, baik Ahlus Sunnah, Syi’ah, atau apapun—adalah tidak menyerang orang lain, tidak melakukan kekerasan, kecuali bila kita diusir dari rumah kita. Ini yang pokok. Kalau seseorang diusir dari rumahnya, berarti dia sudah kehilangan kehormatan dirinya, kehilangan keamanan dirinya, kehilangan keselamatan dirinya. Hanya dengan alasan itu kita boleh melakukan pembelaan.
Bagaimana cara menanggulangi radikalisme itu, Gus?
Ya, kita tidak boleh berhenti menekankan bahwa Islam itu agama damai. Dalam Alquran, ajaran tentang itu sudah penuh. Jadi, kita tidak usah mengulang-ulang (pernyataan) lagi bahwa Islam itu damai dan rasional. Hanya saja, memang ada sisi-sisi lain dari Islam yang kurang rasional. Tapi kalau dipikir-pikir lagi secara mendalam, jangan-jangan itu rasional juga. Jadi dengan begitu, kita tidak boleh serta-merta memberikan judgement, pertimbangan, penilaian. Jangan! Kita harus benar-benar tahu latar belakang mengapa seseorang melakukan kekerasan. Tapi biasanya, yang pura-pura (Islam) itulah yang paling keras.
Menentang pemerintahan yang zalim, yang menyengsarakan rakyat, apakah bisa disebut jihad, Gus?
Sekarang kita tetapkan dulu: pengertian jihad itu apa? Jihad adalah berperang di jalan Allah. Kalau tidak begitu, ya, berarti jihad dalam pengertian lain. Ada banyak macam jihad, yaitu jihad ashghar (terkecil), shâghîr (kecil), kabîr (besar), dan akbar (terbesar). Ayatullah Khomaini pernah mengatakan bahwa jihad ashghar, atau jihad yang terkecil adalah menegakkan keadilan. Tapi itu tergantung niat Anda juga.
Kalau niat Anda berjihad kecil hanya untuk merobohkan pemerintahan, hasilnya ya, merobohkan pemerintahan saja. Di sini kita bisa kiaskan dengan ungkapan Alquran yang menyebutkan itu tergantung pada orangnya. Kalau seseorang mau hijrah karena Allah dan utusan-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan utusan-Nya. Tapi kalau hijrahnya demi harta benda atau perempuan yang akan dinikahi, ya, hijrahnya akan sampai pada apa yang akan dia hijrai itu.
Sama saja dengan cara kita dalam menilai jihad. Luarnya bisa saja seperti jihad; tapi dalamnya kita nggak tahu. Makanya jangan gegabah dalam soal ini. Nggak gampang (menilainya, Red).
Rhenald Kasali : Kuper 9 May 2007
Posted by feryindrawan in Bisnis & Manajemen, Budaya, LifeStyle.9 comments
Jakarta, Seorang direktur utama terkenal sebuah Badan Usaha Milik Negara sangat besar di negri ini pernah berujar bahwa karyawan-karyawannya “kuper”. Saya agak maklum karena dirut ini bukanlah orang karier di perusahaan itu, melainkan diimport dari luar. Lagipula ia sudah banyak makan asam garam memimpin sejumlah perusahaan yang berbeda-beda.
Dibilang begitu tentu ada banyak orang yang tidak terima.
“Ini perusahaan besar, jangan main-main,” ujar seorang senior yang sangat dihormati di sana menolak ucapan itu.
Yang lain melanjutkan: “Emangnya dia pernah punya portfolio sebesar perusahaan ini? Jelas berbeda lah.”
Singkatnya mereka tidak terima.
Begitulah manusia memang cenderung menyangkal terhadap fakta-fakta baru yang mereka dengar. Faktanya sangat benar, mayoritas orang-orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar, kemungkinan besar memang kuper (kurang pergaulan).
Bagaimana tidak?
Rhenald Kasali : Complementary 9 May 2007
Posted by feryindrawan in Bisnis & Manajemen, Budaya, LifeStyle.2 comments
Jakarta, Dua minggu yang lalu saya diminta menjelaskan konsep dasar ReCode di hadapan para bupati dan aparat pemerintah daerah di Kalimantan Timur. Dalam kesempatan itu hampir semua bupati atau wakilnya hadir, kecuali yang sedang ditahan aparat. Di tempat ini, saya pun mulai menyaksikan peranan leadership dalam membangun daerah.
Di antaranya terdapat Awang Farouk (Bupati Kutai Timur) dan dr. Jusuf S.K (Walikota Pulau Tarakan). Keduanya saya lihat sangat menonjol, dan tidak menyia-nyiakan resources yang mereka miliki. Mereka tahu bahwa kekayaan alam dapat habis dan sadar betul masa depan daerah yang dipercayakan pada mereka tidak bisa terus menerus menggantungkan pada nya. Seperti kata Michael Porter, kesejahteraan bukanlah didapat dari warisan (inherited), melainkan harus diciptakan sungguh-sungguh (well created) melalui inovasi.
Awang Farouk adalah mantan “orang pusat” yang lama berkecimpung di parlemen sehingga ia tahu apa yang menjadi pergulatan pusat dengan daerah dan sebaliknya. Sedangkan dr. Jusuf S.K. adalah seorang dokter yang telah teruji menyelamatkan rumah sakit di daerahnya. Mereka menggunakan kacamata daerah untuk membangun daerahnya, yang meski kaya, tetapi miskin dalam kualitas sumber daya manusia, organisasi dan infrastruktur. Dengan begitu kekayaan daerah mereka tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh putra-putri daerah, melainkan dinikmati oleh orang-orang yang datang dari luar, khususnya luar negri, melalui perusahaan-perusahaan asing atau kaki tangannya.
Rhenald Kasali : Sakit Mental Pemimpin 9 May 2007
Posted by feryindrawan in Bisnis & Manajemen, Budaya, LifeStyle.6 comments
Jakarta, Pemimpin tetaplah manusia biasa. Ia bisa lahir dari keluarga bahagia yang penuh kasih sayang, tapi juga bisa datang dari kalangan yang terbuang. Dan yang datang dari kalangan yang pertama belum tentu mampu memimpin dengan baik. Demikian pula yang dilahirkan dari kelompok ke-dua.
Di dunia ini kita bisa menemukan macam-macam tipe pemimpin, mulai dari pemimpin yang tegas, berani dan bijak, sampai pemimpin yang populis yang tidak berani. Di tengah-tengah kedua kutup itu terdapat banyak varian yang membuat kepemimpinan tidak efektif.
Banyak pemimpin yang berpikir ia akan sukses kalau ia bisa membuat segala sesuatu tenang. Living in harmony. Bila ada konflik ia segera bertindak. Setiap kali ada pihak yang mengadu ia tanggapi dengan menekan yang diadukan. Kadang cukup dengan perintah atau keluhan yang cukup membuat orang yang diadukan gerah. Karena pihak yang diadukan diam saja, maka urusan beres. Yang ia tidak tahu adalah, terjadi konflik yang semakin keras di level menengah yang mengakibatkan proses manajemen menjadi kacau dan hasil akhir yang diharapkan tidak optimal.
American Psychiatry Association mengingatkan agar hendaknya kita selalu berhati-hati karena dalam diri kita masing-masing selalu saja ditemui benih-benih penyakit kejiwaan. Mereka menyebutnya sebagai Mentally disorder personality type yang mengakibatkan kepemimpinan tidak efektif. Penyakit-penyakit jiwa seperti ini sesungguhnya banyak kita temui sehari-hari. Dari ke-15 penyakit jiwa itu, ada 9 (sembilan) yang saya lihat sangat mudah kita deteksi sebagai berikut.


